Lewati ke konten utama
Networking Itu Bukan Skill, Itu Privilese
Karier•9 MENIT BACA

Networking Itu Bukan Skill, Itu Privilese

“Networking dijual sebagai skill yang bisa dipelajari. Tapi data tunjukkan koneksi sudah ada sejak awal. Networking cuma meritokrasi untuk menyalahkan kamu.”

Diterbitkan

Bangun Jaringan, Kata Mereka. Tapi Apa Kata Riset?

Semua bilang build your network, itu kunci sukses karier. Seminar karier ngomong jaga relasi. LinkedIn penuh nasihat expand your connections. Tapi data CareerPlug 2024 menunjukkan orang yang dapat kerja lewat referral cuma 2% dari total applicants, dan mereka 10 kali lebih mungkin diterima dibanding yang melamar lewat job board. Studi Granovetter (1973) menemukan 56% orang dapat kerja lewat kontak personal, bukan lamaran terbuka. Networking dijual sebagai skill yang bisa dipelajari siapa saja. Kenyataannya, networking adalah privilese yang dikemas sebagai meritokrasi.

Kamu pikir masalahnya kamu nggak bisa networking. Kamu dikasih nasihat hadiri event, aktif di LinkedIn, kirim connection request ke orang penting. Sebenarnya masalahnya lebih besar dari itu: sistem yang pakai networking untuk menyalahkan kamu atas ketidaksetaraan akses.

Riset Boston 1973 yang Mengganti Cara Kita Lihat Karier

Mark Granovetter, sosiolog Harvard, menerbitkan "The Strength of Weak Ties" di American Journal of Sociology tahun 1973. Dia studi 282 professional, technical, dan managerial job changers di Boston. Hasil studi Granovetter (1973): 56% dapat kerja lewat kontak personal, bukan lamaran terbuka atau iklan lowongan.

Dari yang dapat kerja lewat kontak, data Granovetter (1973) menunjukkan 84% lewat weak ties, orang yang dilihat sesekali atau jarang. Bukan sahabat dekat, bukan keluarga. Kenapa? Karena orang dekat kamu tahu hal yang sama dengan kamu. Weak ties bergerak di lingkaran berbeda dan punya informasi yang berbeda. Tahun 2022, Rajkumar dan tim dari Stanford, MIT, Harvard, dan LinkedIn menerbitkan eksperimen terbesar dalam sejarah tentang teori ini di jurnal Science. Studi ini manipulasi algoritma "People You May Know" LinkedIn selama 5 tahun, melibatkan 20 juta user. Hasil studi Rajkumar dan tim di jurnal Science (2022): 2 miliar koneksi baru dan 600,000 pekerjaan baru. Weak ties memang meningkatkan job mobility, tapi dengan twist: moderately weak ties paling efektif, bukan yang paling lemah.

Tapi coba perhatikan satu hal. Weak ties yang Granovetter maksud itu orang yang sudah ada di lingkaran sosial kamu. Kamu nggak bisa punya weak ties ke managing partner firma konsultan kalau kamu nggak pernah ada di ruang yang sama dengan dia. Teori weak ties mengasumsikan kamu sudah punya akses ke lingkaran sosial yang beragam. Itu sendiri sudah privilese.

Angka Rekrutmen yang Susah Dibantah

Data CareerPlug Recruiting Metrics Report 2024 menganalisis jutaan aplikasi kerja. Menurut data CareerPlug (2024), referral cuma 2% dari total applicants, tapi 11% dari hires. Bandingkan dengan job board yang menurut CareerPlug menghasilkan 62% applicants tapi cuma 55% hires. Artinya orang dengan referral 10 kali lebih mungkin diterima per aplikasi dibanding applicant dari job board.

Referral vs Job Board: Konversi Applicant ke Hire

Referral 10x lebih efisien per aplikasi

Sumber: CareerPlug Recruiting Metrics Report, 2024

Data Glassdoor (2025) memperkuat data ini. Menurut Glassdoor, referral menghasilkan 7.9% interview dan 10.2% job offer. Tapi interview dari referral 35% lebih mungkin berakhir dengan offer menurut data Glassdoor dibanding interview dari sumber lain. Data ERIN (2024) memproses 1.1 juta referral dan 146,689 hires. Tingkat konversi menurut ERIN: 13% referral menghasilkan hire. Ini bukan skill. Ini struktur. Kalau kamu nggak punya teman di perusahaan target, kamu nggak bisa dapat referral. Kalau kamu nggak bisa dapat referral, kamu 10 kali lebih kecil kemungkinan direkrut. Referral system adalah nepotisme yang dilegalkan. Perusahaan menyebutnya employee referral program. Tapi prinsipnya sama: orang di dalam memilih orang yang mereka kenal.

Budaya "Ordal" di Indonesia: Koneksi Menentukan, Bukan Kemampuan

Riset The Conversation Indonesia menemukan fenomena "ordal" atau orang dalam berperan penting dalam pencarian kerja lulusan muda. Hampir semua partisipan riset mengaku dapat kerja lewat orang dalam. Satu partisipan bercerita: "Ayah saya kebetulan satu tempat kerja dengan saya. Beliau jadi satpam dan kenal dengan manajer restoran." Yang lain: "Teman ada kontak saya. Lu mau gawe gak? Ya sudah malamnya saya langsung datang."

Tapi ada pola class yang tidak terlihat di permukaan. Riset ini menemukan bahwa orang dalam dari kelas ekonomi bawah cuma memberi akses ke pekerjaan rentan: gaji terbatas, jam kerja tidak menentu, tanpa kepastian. Orang dalam dari kelas menengah ke atas memberi akses ke pekerjaan stabil dengan jalur karier jelas. Jejaring kuat atau strong ties hanya membantu dapat kerja, tapi tidak menjamin perbaikan status ekonomi. Sebab orang dalam yang kamu kenal juga berasal dari kelas ekonomi yang sama denganmu. Akses mereka ke kesempatan kerja yang lebih baik juga terbatas.

LPEM FEB UI (2026) menganalisis data Sakernas Agustus 2025 dan menemukan rata-rata waktu cari kerja setelah lulus adalah 19.8 bulan, hampir 20 bulan. Bagi yang tidak punya orang dalam, waktu ini makin lama. Bagi yang punya orang dalam dari kelas menengah ke atas, waktu ini bisa dipangkas banyak.

Warisan Koneksi Antar Generasi

Pierre Bourdieu, sosiolog Prancis, menerbitkan "The Forms of Capital" tahun 1986. Dia mengidentifikasi tiga bentuk modal: ekonomi (uang dan properti), budaya (pendidikan, selera, manner), dan sosial (koneksi dan jaringan). Modal sosial didefinisikan sebagai agregat sumber daya yang terkait dengan kepemilikan jaringan koneksi yang tahan lama.

Kunci dari teori Bourdieu: modal sosial bisa dikonversi menjadi modal ekonomi. Koneksi memberi akses ke kerjaan, kerjaan memberi uang. Tapi modal sosial itu warisan, bukan prestasi individu. Bourdieu menulis bahwa pemilik modal sosial warisan, yang disimbolkan dengan nama besar, mampu mengubah semua hubungan kebetulan menjadi koneksi abadi. Orang yang orang tuanya punya koneksi, otomatis punya akses sejak lahir. Orang yang orang tuanya tidak punya koneksi, harus mulai dari nol. Networking advice mengasumsikan semua orang mulai dari titik yang sama. Bourdieu membuktikan mereka tidak. Modal sosial diwariskan antar generasi, sama seperti modal ekonomi.

Pedigree: Privilese Berkedok Prestasi

Lauren Rivera, profesor di Northwestern University, menerbitkan "Pedigree: How Elite Students Get Elite Jobs" lewat Princeton University Press tahun 2015. Riset ini berbasis 100 lebih wawancara dengan hiring managers di Goldman Sachs, McKinsey, Boston Consulting Group, dan firma hukum top-tier, plus observasi langsung proses rekrutmen di kampus Ivy League.

Temuan Rivera: setiap tahap hiring process menguntungkan applicants dari background ekonomi privileged. Kata "pedigree" yang dipakai hiring managers sebagai shorthand untuk record of accomplishments kelihatan berbasis effort individu. Tapi Rivera menemukan bahwa pedigree sebenarnya berbasis akses: sekolah elite butuh uang keluarga, hobi elite seperti lacrosse dan squash butuh uang keluarga, internship di perusahaan top butuh uang keluarga.

Rivera menulis: "Hiring decisions that appear on the surface to be based only on individual merit are subtly yet powerfully shaped by applicants' socioeconomic backgrounds." Di abad ke-21, tingkat pendidikan dan pendapatan orang tua menentukan siapa yang kerja di Wall Street, siapa yang kerja di Main Street, dan siapa yang sampai di puncak tangga ekonomi. Networking di level ini bukan hadiri event dan kenalan. Networking di level ini adalah ayah saya golf dengan managing partner firma X. Atau ibu saya satu alumna dengan HR director perusahaan Y. Ini bukan skill yang bisa dipelajari dari webinar LinkedIn.

Nasihat Build Your Network Adalah Mitos Meritokrasi

Saya perhatikan dari teman-teman saya sendiri, yang dapat kerja cepat setelah lulus hampir selalu lewat koneksi. Teman yang ayahnya pengusaha langsung diterima di firma Big Four. Teman yang kakaknya kerja di bank langsung dapat interview tanpa seleksi CV. Sementara yang nggak punya koneksi, kirim 300 lamaran ke JobStreet dan LinkedIn, masih nganggur setelah setahun. Ini bukan kebetulan, ini pola.

Nasihat "build your network" mengasumsikan networking adalah skill yang bisa dipelajari siapa saja. Tapi data menunjukkan orang yang networking berhasil sudah punya akses sejak awal. Granovetter bilang weak ties penting, tapi weak ties butuh akses ke lingkaran sosial berbeda. Bourdieu bilang social capital itu warisan. Rivera bilang hiring process favor privileged backgrounds. Riset Indonesia bilang ordal culture menentukan dapat kerja atau nggak.

Nasihat "build your network" cuma cara untuk menyalahkan individu atas ketidaksetaraan akses. Kalau kamu nggak dapat kerja, kamu disalahkan karena nggak networking cukup. Padahal masalahnya bukan kamu nggak mau networking. Masalahnya kamu nggak punya akses ke ruang-ruang di mana networking terjadi. Sama seperti 300 lamaran ditolak bukan pilih-pilih, sistemnya yang nggak mau kamu, masalahnya sistemnya, bukan kamu.

Dan nasihat personal branding di LinkedIn? Itu juga bentuk meritocratic myth. Personal branding bukan karier, itu kerja gratis untuk platform. Kamu dikasih nasihat bangun personal brand supaya "terlihat" oleh recruiter. Tapi recruiter melihat 500 CV sehari. Buka JobStreet, ada ratusan orang melamar lowongan yang sama. Buka Kalibrr, sama. Yang menonjol bukan yang personal branding-nya paling baik, tapi yang punya referral dari dalam.

Akhir Kata: Bangun Career Capital, Bukan Koneksi

Koneksi nggak bisa kamu dapatkan dari buku atau seminar. Koneksi lahir dari akses, dan akses itu warisan. Nasihat build your network cuma menyalahkan kamu atas sesuatu di luar kendalimu.

Yang bisa kamu lakukan: bangun career capital. Belajar Python, dapat sertifikasi AWS, bangun portfolio GitHub dengan project nyata. Itu sesuatu yang kamu bisa kontrol. Bukan koneksi palsu lewat LinkedIn yang nggak akan dilihat siapa pun. Skill terverifikasi lebih bisa dikontrol daripada akses ke ruang VIP. Sama seperti passion itu trap, kerja butuh gaji bukan cinta, nasihat networking juga trap: terlihat seperti solusi, sebenarnya menyalahkan kamu atas masalah sistemik.

Masalahnya bukan kamu nggak punya koneksi. Masalahnya lebih besar dari itu.

FAQ

Apakah networking memang dibutuhin buat karier?

Ya, data Granovetter (1973) menunjukkan 56% orang dapat kerja lewat kontak personal. Tapi dibutuhin tidak berarti adil. Orang yang punya akses ke jaringan lebih mudah networking. Orang yang tidak punya akses, nasihat networking cuma pengingat bahwa mereka tidak punya akses.

Kenapa saya susah networking padahal sudah ikut event dan LinkedIn?

Karena networking bukan soal hadiri event atau kirim connection request. Networking adalah akses ke lingkaran sosial yang berbeda dari milikmu. Kalau lingkaran sosialmu terbatas, weak ties yang kamu bangun juga terbatas. Ini bukan kegagalan pribadi, ini struktur.

Apakah referral system itu fair?

Tidak. Data CareerPlug (2024) menunjukkan referral cuma 2% dari applicants tapi 11% dari hires. Orang dengan referral 10 kali lebih mungkin diterima. Referral system menguntungkan orang yang sudah punya koneksi di dalam perusahaan, dan menghukum yang tidak.

Bagaimana cara dapat kerja kalau nggak punya koneksi?

Bangun career capital: keterampilan yang langka dan bernilai di pasar. Data LPEM FEB UI (2026) menunjukkan rata-rata 20 bulan cari kerja setelah lulus. Tapi yang punya magang dan sertifikat 3.6 bulan lebih cepat. Skill terverifikasi lebih bisa dikontrol daripada koneksi.

Apakah networking itu nepotisme?

Tidak persis sama. Nepotisme adalah favoritisme berbasis hubungan keluarga. Referral system adalah favoritisme berbasis hubungan profesional. Tapi intinya sama: orang di dalam lebih dipilih daripada orang di luar. Bedanya, referral system dilegalkan dan dipromosikan sebagai best practice.

Bagikan:

Newsletter

Satu email per minggu untuk melihat uang, karier, bisnis, dan kehidupan dari sudut yang lebih jernih. Gratis, berhenti kapan saja.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Komentar (0)

Login untuk berkomentar