
Gig Economy Bukan Pilihan, Jebakan Produktivitas Rendah
2,41 juta pekerja digital, 75% di bawah Rp3 juta per bulan. Gen Z bukan pilih gig economy, sektor formal yang tidak mau serap.
Baca selengkapnya
2,41 juta pekerja digital, 75% di bawah Rp3 juta per bulan. Gen Z bukan pilih gig economy, sektor formal yang tidak mau serap.
Baca selengkapnya
47% Gen Z berencana resign dalam setahun. Bukan loyalitas yang mati, tapi sistem kerja yang tidak memberi alasan untuk tetap setia.
Baca selengkapnya
60% Gen Z melakukan quiet quitting. Bukan karena malas, tapi karena sistem kerja mengeksploitasi tanpa batas dan tidak memberi alasan untuk peduli.
Baca selengkapnya
Menaker bilang skill lebih penting dari ijazah. Tapi lowongan tetap syarat S1. Sistem tetap minta ijazah yang kamu ambil hutang untuk dapatkan.
Baca selengkapnya
63% Gen Z beralih ke gig economy tanpa BPJS, tanpa jaminan sosial. Fleksibilitas yang dijual sebagai kebebasan sebenarnya adalah keputusan terpaksa.
Baca selengkapnya
Gen Z tidak lagi mengandalkan LinkedIn untuk mencari kerja. Mereka pindah ke TikTok dan Instagram, di mana informasi karier terasa lebih nyata.
Baca selengkapnya
Ditolak 300 kali bukan anomali. Data BPS mencatat pengangguran sarjana tertinggi di semua jenjang. Masalahnya struktur, bukan sikap.
Baca selengkapnya
Lulusan S1 bersaing dengan lulusan SMA untuk lowongan yang sama. Data BPS membuktikan: semakin tinggi gelar, semakin besar kemungkinan menganggur.
Baca selengkapnya
450 karyawan di-PHK 2024, 450 lagi 2025, dan 2026 rumor 90% dipangkas. Kalau kerja keras menjamin keamanan, kenapa ini terjadi?
Baca selengkapnya
23.470 pekerja kena PHK di 2026. Bukan karena malas. Tapi karena kerja keras tidak pernah menjamin keamanan. Inilah kenyataan yang perlu kamu lihat.
Baca selengkapnya
Sejak SMA kamu didorong side hustle, 5 AM club, personal branding. Hasilnya? Burnout massal. Bukan kamu lemah, tapi sistem yang minta lebih tapi beri kurang.
Baca selengkapnya