
Resenteeism: Masuk Kerja Sakit Bukan Dedikasi, Tidak Ada Pilihan Lain
26,1% pekerja formal Indonesia masuk kerja saat sakit. Biaya presenteeism 3x absenteeism. Bukan dedikasi, itu ketiadaan jaring pengaman.
Masuk Kerja Sakit Itu Dedikasi, Katanya
Semua bilang masuk kerja saat sakit itu dedikasi. Bos memuji, rekan kerja kagum, HR catat absensi sempurna. Budaya kerja Indonesia masih memuja kehadiran fisik sebagai bukti komitmen. "Karyawan terbaik tidak pernah izin," begitu narasi yang berlaku di banyak perusahaan.
Tapi data bilang sebaliknya. Studi yang dipublikasikan di Journal of UOEH pada Juni 2025 menemukan prevalensi sickness presenteeism di Indonesia sebesar 26,1 persen dari 590 pekerja formal yang disurvei. Studi ini juga menemukan bahwa presenteeism berkorelasi dengan usia muda dan tingkat pendidikan tinggi. Artinya, Gen Z justru paling sering masuk kerja saat sakit.
Dan itu bukan karena mereka dedicated. Itu karena mereka tidak mampu kehilangan satu hari gaji.
Dari Presenteeism ke Resenteeism
Presenteeism adalah kondisi ketika karyawan tetap hadir bekerja meskipun sedang sakit atau tidak dalam kondisi optimal. Berbeda dari absensi, karyawan presenteeism terlihat hadir tapi produktivitasnya turun drastis. Istilah ini muncul pertengahan 1990-an untuk menggambarkan pekerja yang tetap masuk kantor saat sakit karena takut mendapat konsekuensi jika mengambil cuti.
Resenteeism adalah presenteeism ditambah rasa resentful. Karyawan hadir karena terpaksa, bukan karena dedikasi. Mereka marah dan frustrasi, merasa tidak punya opsi lain. Tapi mereka tetap masuk karena tidak mampu kehilangan pendapatan, takut dinilai tidak dedicated, atau khawatir pekerjaan menumpuk.
Sejak pandemi COVID-19 mengubah pola kerja menjadi hybrid dan remote, makna presenteeism meluas. Digital presenteeism mencakup perilaku tetap online sepanjang hari, cepat membalas chat kerja, dan rutin hadir di rapat virtual meski di luar jam kerja. Laporan gabungan Qatalog dan GitHub menemukan 54 persen pekerja berbasis pengetahuan merasa tertekan untuk menunjukkan bahwa mereka sedang online pada jam tertentu. Rata-rata menghabiskan tambahan 67 menit per hari hanya untuk membuat pekerjaan mereka terlihat oleh orang lain.
Di Indonesia, fenomena ini semakin mengakar dengan budaya kerja yang menganggap sakit sebagai kelemahan. Stephen Bevan dari Institute for Employment Studies mengatakan presenteeism banyak terjadi di perusahaan yang menganggap cuti atau istirahat sebagai tanda kelemahan. Akibatnya, karyawan tetap memaksakan diri bekerja saat sakit, sulit menjadwalkan pemeriksaan kesehatan, hingga mengalami kelelahan berkepanjangan.
26,1% Pekerja Indonesia Masuk Kerja Saat Sakit
Studi Journal of UOEH 2025 melibatkan 590 pekerja formal dari instansi pemerintah, sektor pendidikan, pusat kesehatan, dan perusahaan industri di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 154 orang atau 26,1 persen melakukan sickness presenteeism dalam sebulan terakhir sebelum studi. Mayoritas partisipan adalah pekerja kesehatan (33,9 persen) dan berasal dari Pulau Jawa (64,1 persen).
Studi lain di PT Bank BNI yang dipublikasikan di Jurnal JIKM 2025 menemukan 73,6 persen pekerja perempuan menunjukkan presenteeism tinggi. Tingkat pendidikan menjadi faktor dominan, dengan peluang 4,8 kali lebih besar pada karyawan berpendidikan tinggi. Studi di Samarinda menemukan prevalensi presenteeism pada tenaga kesehatan sebesar 31,6 persen dari 136 responden.
Mengapa usia muda lebih sering presenteeism? Ada beberapa alasan yang saling berkaitan, dan semuanya bermuara pada ketiadaan pilihan.
Pertama, ketidakamanan kerja. Gen Z paling mudah terkena PHK dan paling sedikit punya tabungan untuk bertahan tanpa gaji. Kalau kamu tidak punya tabungan, satu hari cuti sakit berarti satu hari tanpa pendapatan (di banyak perusahaan, cuti sakit memotong gaji). Ketakutan ini membuat banyak pekerja muda memilih masuk kerja meski tubuh tidak fit.
Kedua, beban kerja menumpuk. Pekerjaan menumpuk jika tidak masuk. Kalau kamu cuti satu hari, besoknya kamu hadapi pekerjaan dua hari. Bagi pekerja muda yang masih ingin membuktikan diri, beban ganda ini lebih menakutkan daripada masuk kerja saat sakit.
Ketiga, budaya kerja. Banyak perusahaan masih mengukur kinerja dari kehadiran, bukan dari hasil. "Karyawan terbaik tidak pernah izin" adalah narasi yang masih berlaku. Kalau kamu cuti sakit, kamu dianggap lemah atau tidak dedicated.
Biaya Presenteeism 3x Lebih Besar dari Absensi
Presenteeism berbahaya bukan cuma buat karyawan, tapi juga buat perusahaan dan ekonomi.
Data dari Intellect 2025 menunjukkan biaya presenteeism mencapai USD 990 per karyawan per bulan, tiga kali lipat dibandingkan biaya absenteeism yang hanya USD 318. Riset yang dikutip Universitas Indonesia menemukan presenteeism menyebabkan hilangnya produktivitas hampir 50 persen lebih besar dibandingkan absenteeism.
Laporan Rasmussen et al. 2016 dari Victoria University memproyeksikan economic cost Indonesia akibat presenteeism, absenteeism, dan early retirement due to ill health mencapai 6,5 persen GDP pada 2015, naik ke 7,2 persen GDP pada 2030. Indonesia menanggung biaya tertinggi di Asia Tenggara, lebih besar dari Singapura maupun Malaysia.
Centre for Mental Health memperkirakan kerugian organisasi akibat presenteeism mencapai 15 miliar poundsterling per tahun. American Productivity Audit menemukan 38,3 persen pekerja melaporkan waktu non-produktif di tempat kerja sebagai dampak kondisi kesehatan, dengan penurunan kinerja dikuantifikasikan sebagai 66 persen atau 1,32 jam dalam satu minggu.
Studi longitudinal yang dipublikasikan di BMC Public Health menganalisis data 4.180 pekerja bergaji di Korea Selatan periode 2019-2022. Hasilnya: pekerja yang tetap bekerja saat sakit memiliki risiko 30 persen lebih tinggi mengalami absen karena sakit di masa depan. Presenteeism terjadi lebih sering (12,7-25 persen) dibandingkan absensi (8,6-12,3 persen).
Temuan ini menunjukkan bahwa masuk kerja saat sakit bukan sekadar keputusan sesaat. Itu bisa menjadi indikator awal penurunan kesehatan atau kapasitas kerja. Ketika seseorang memaksakan diri bekerja saat sakit, kondisi kesehatan mereka mungkin belum pulih total atau bahkan sedang memburuk.
Bukan Dedikasi, Tidak Ada Pilihan Lain
Data BPS dan Gallup State of the Global Workplace 2024 menunjukkan 26,80 persen pekerja Indonesia bekerja lebih dari 49 jam per minggu. WHO dan ILO mencatat jam kerja berlebih (55 jam atau lebih per minggu) meningkatkan risiko stroke hingga 35 persen dan penyakit jantung iskemik hingga 17 persen.
Laporan Marsh Indonesia Health Benefits Study 2025 memproyeksikan tren medis di Indonesia mencapai 17,8 persen pada 2026, jauh di atas rata-rata Asia sebesar 12,5 persen. Biaya kesehatan yang harus ditanggung perusahaan akan terus meningkat jika tidak ada strategi preventif.
Tapi masalah utama bukan biaya kesehatan. Masalahnya adalah ketiadaan jaring pengaman.
Banyak perusahaan di Indonesia tidak punya kebijakan paid sick leave yang jelas. Cuti sakit sering berarti potong gaji. Dan bagi pekerja muda yang hidup dari gaji ke gaji, potong gaji berarti tidak bisa bayar kos, cicilan, dan makan.
BPS mencatat 21,47 persen pekerja muda masih berada di sektor informal yang umumnya memiliki pendapatan lebih fluktuatif. Tanpa jaring pengaman maupun tabungan, masuk kerja sakit bukan pilihan. Itu satu-satunya opsi yang tersisa.
Rasa bersalah juga berperan. Budaya kerja yang menganggap sakit sebagai kelemahan membuat karyawan merasa bersalah jika beristirahat. Seperti yang kami bahas di artikel toxic productivity: istirahat terasa seperti kejahatan, banyak orang merasa salah saat tidak produktif. Tapi reaksi yang benar bukanlah memaksakan diri masuk kerja saat sakit. Reaksi yang benar adalah membangun sistem yang memberi ruang untuk sakit tanpa konsekuensi finansial.
Saya punya teman yang kerja di startup. Dia demam 38 derajat tapi tetap masuk karena "tim lagi deadline." Besoknya, tiga rekan kerjanya ikut sakit. Seminggu kemudian, seluruh tim tidak produktif. Kalau dia cuti satu hari, mungkin hanya dia yang tertinggal. Karena masuk kerja sakit, seluruh tim yang tertinggal. Itu bukan dedikasi. Itu penularan yang bisa dihindari.
Sistem yang Tidak Memberi Pilihan, Bukan Karyawan yang Tidak Tahu Istirahat
Masuk kerja sakit bukan tanda kuat, itu tanda tidak ada jaring pengaman. Dedikasi adalah pilihan. Kalau kamu tidak punya pilihan, itu bukan dedikasi. Itu ketiadaan pilihan yang dikemas sebagai dedikasi.
Perusahaan sebenarnya profit dari presenteeism dalam jangka pendek: karyawan hadir, absensi terlihat sempurna, target tercapai. Tapi dalam jangka panjang, perusahaan rugi. Produktivitas turun 50 persen lebih, kesehatan karyawan memburuk, biaya kesehatan naik, turnover meningkat. Dan seperti yang kami bahas di quiet quitting: bukan malas, sistem kerja yang tidak mau bayar hati, karyawan yang dipaksa hadir tanpa dukungan sistem lama-kelamaan akan berhenti mencoba.
Yang rugi paling besar adalah karyawan. Kesehatan memburuk, pemulihan makin lama, risiko burnout meningkat. Dan kalau sampai harus berobat, biayanya sendiri yang tanggung. Perusahaan tidak membayar tagihan RS kamu karena kamu masuk kerja saat sakit.
Seperti yang kami tulis di hustle culture: kenapa gen Z berhenti berlari, berhenti bukan berarti menyerah. Kadang berhenti adalah satu-satunya cara untuk tidak hancur. Dan berhenti saat sakit bukan tanda lemah. Tanda lemah adalah sistem yang membuat kamu merasa salah untuk beristirahat saat tubuh butuh istirahat.
Bukan Kamu yang Dedicated, Sistem yang Tidak Memberi Pilihan
26,1 persen pekerja formal Indonesia masuk kerja saat sakit. Bukan karena mereka kuat, tapi karena mereka tidak mampu sakit. Bukan karena mereka dedicated, tapi karena mereka tidak punya pilihan.
Dedikasi adalah pilihan. Kalau kamu masuk kerja saat sakit karena kamu memilih untuk itu, itu dedikasi. Tapi kalau kamu masuk karena tidak mampu kehilangan gaji, takut dinilai tidak dedicated, atau khawatir pekerjaan menumpuk, itu bukan dedikasi. Itu ketiadaan jaring pengaman.
Jangan rayakan karyawan yang masuk kerja sakit. Tanya kenapa mereka tidak bisa tidak masuk, apakah perusahaan memberi paid sick leave, dan apakah budaya kerja menghukum istirahat. Tanya apakah ada sistem yang memungkinkan karyawan sakit tanpa kehilangan pendapatan.
Kalau jawabannya tidak, maka masuk kerja sakit bukan dedikasi. Itu bukti sistem yang gagal.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu presenteeism?
Presenteeism adalah kondisi ketika karyawan tetap hadir bekerja meskipun sedang sakit atau tidak dalam kondisi optimal. Berbeda dari absensi, karyawan presenteeism terlihat hadir tapi produktivitasnya turun drastis. Studi JUOEH 2025 menemukan prevalensi presenteeism di Indonesia sebesar 26,1 persen dari 590 pekerja formal.
Bedanya presenteeism dan resenteeism apa?
Presenteeism adalah masuk kerja saat sakit. Resenteeism adalah presenteeism disertai rasa resentful (marah, frustrasi) karena merasa tidak punya pilihan. Karyawan resenteeism hadir karena terpaksa, bukan karena dedikasi. Mereka marah tapi tidak bisa keluar dari situasi.
Kenapa presenteeism lebih berbahaya dari absensi?
Presenteeism menyebabkan hilangnya produktivitas hingga 50 persen lebih besar dari absensi. Biaya presenteeism mencapai USD 990 per karyawan per bulan, tiga kali lipat dari absenteeism (USD 318). Selain itu, masuk kerja sakit memperburuk kesehatan dan berisiko menular ke rekan kerja. Studi BMC Public Health menemukan presenteeism meningkatkan risiko 30 persen untuk absen di masa depan.
Apakah masuk kerja saat sakit itu dedikasi?
Kalau kamu punya paid sick leave tapi memilih masuk, itu bisa jadi dedikasi. Tapi kalau kamu masuk karena tidak mampu kehilangan gaji, takut dinilai tidak dedicated, atau khawatir pekerjaan menumpuk, itu bukan dedikasi. Itu ketiadaan pilihan yang dikemas sebagai dedikasi.
Bagaimana cara mengatasi presenteeism?
Kenali batas tubuh dan gunakan cuti sakit saat perlu. Tapi solusi sebenarnya adalah sistem: paid sick leave, budaya kerja yang tidak menghukum istirahat, dan evaluasi kinerja dari hasil bukan dari kehadiran. Seperti yang kami bahas di freelance bukan kebebasan, jebakan tanpa jaring pengaman, ketiadaan jaring pengaman bukan masalah individu, tapi masalah sistem.
TAM gratis untuk semua
Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.
Dukung TAMBaca juga

Negosiasi Gaji Gen Z: Bukan Miskin Skill, Sistem yang Didesain Kamu Ngga Nanya
Gaji awal S1 turun Rp610 ribu. 67% Gen Z tidak negosiasi gaji. Bukan soal skill, sistem tidak pernah mengajarkan kamu boleh nanya. HRD punya data, kamu tidak.
Baca selengkapnya
Kerja Remote untuk Bule: Gen Z Indonesia Jadi Talent Ekspor Termurah
Gaji USD 5-10x lokal kelihatan enak. Tapi tanpa BPJS, THR, atau pesangon, kamu bukan talent global. Kamu talent murah yang kebetulan kerja dari rumah.
Baca selengkapnya
Personal Branding Bukan Karier, Itu Kerja Gratis untuk Platform
72% recruiter pakai LinkedIn, tapi 842 ribu sarjana menganggur. Personal branding bikin LinkedIn dapat content gratis, kamu dapat visibility tanpa jaminan.
Baca selengkapnya