Lewati ke konten utama
Bullshit Jobs: Kerjamu Mungkin Nggak Ada Gunanya
Karier•11 MENIT BACA

Bullshit Jobs: Kerjamu Mungkin Nggak Ada Gunanya

“Gallup 2026: 80% pekerja global cuma bertahan. 37% bilang kerja mereka nggak bermakna. Dan AI akan mengekspos pekerjaan mana yang memang sia-sia.”

Diterbitkan

Hook

Gallup 2026 melaporkan hanya 20% pekerja global yang engaged dengan kerja mereka. Sisanya, data Gallup menunjukkan 80% cuma bertahan. Mereka datang, duduk, selesaikan tugas, lalu pulang tanpa rasa terhubung dengan apa yang mereka kerjakan.

Masalahmu bukan kamu malas. Masalahmu adalah pekerjaanmu mungkin memang nggak ada gunanya. Dan kamu bukan satu-satunya yang merasa begitu.

Konteks

David Graeber, antropolog London School of Economics, pertama kali mempublikasikan esai "On the Phenomenon of Bullshit Jobs" di tahun 2013. Intinya sederhana: kapitalisme modern seharusnya membebaskan manusia dari pekerjaan menjemukan lewat teknologi. Tapi kenyataannya, teknologi justru menciptakan jenis pekerjaan baru yang tidak berguna.

Graeber mendefinisikan bullshit jobs sebagai pekerjaan bergaji yang begitu tidak berguna atau bahkan merugikan, sampai karyawannya sendiri tidak bisa membenarkan keberadaannya. Karyawan tahu pekerjaannya nggak ada gunanya. Tapi mereka tetap datang setiap hari, berpura-pura sibuk, dan pulang dengan perasaan hampa.

Dalam esai aslinya, Graeber mengumpulkan lebih dari 250 kesaksian dari pekerja di berbagai industri. Dari situ ia mengidentifikasi lima kategori pekerjaan yang tidak punya alasan untuk eksis. Konsep ini kemudian jadi buku full-length pada 2018 dan terjemah ke 30 bahasa dalam dua minggu.

Kamu pikir kamu malas. Sebenarnya kamu adalah gejala dari sistem yang lebih besar. Dan datanya membuktikan itu.

Lima Wajah Pekerjaan Tanpa Guna

Flunkies: Pekerjaan yang Ada untuk Membuat Orang Lain Terlihat Penting

Flunky adalah pekerjaan yang eksis cuma untuk membuat orang lain kelihatan penting. Contoh klasik Graeber: resepsionis di kantor yang teleponnya berdering sekali sehari. Atau asisten yang tugas utamanya meneruskan email dari bos ke orang lain.

Di Indonesia, saya pernah lihat satu BUMN punya tiga "staf khusus" untuk satu direktur. Tiga orang yang tugas harian mereka tidak jelas. Di rapat mereka datang dan duduk diam. Di laporan mereka ketik ulang apa yang sudah dikte direktur. Mereka ada bukan karena kerjanya perlu, tapi karena direktur dengan tiga staf kelihatan lebih penting daripada direktur dengan satu staf.

Goons: Pekerjaan yang Ada karena Perusahaan Lain Juga Punya

Goons adalah pekerjaan yang sifatnya agresif dan hanya perlu karena pihak lain juga punya. Corporate lawyer, telemarketer, spesialis PR, lobbyist. Kamu tidak butuh corporate lawyer kalau kompetitor kamu tidak punya corporate lawyer. Tapi karena mereka punya, kamu juga harus punya.

Graeber menulis bahwa para goons sering merasa pekerjaan mereka manipulatif. Satu kesaksian dari call center employee: "Saya menelepon orang untuk menjual akses credit score yang bisa mereka dapatkan gratis di tempat lain. Kami jual dengan harga 6,99 pound per bulan."

Duct-Tapers: Pekerjaan yang Menambal Masalah yang Seharusnya Tidak Ada

Duct-tapers adalah pekerjaan yang eksis karena ada glitch di organisasi yang tidak ada yang mau perbaiki. Mereka menambal masalah yang seharusnya tidak ada. Satu contoh dari Graeber: seorang staf yang tugasnya memproofread laporan dari peneliti senior yang tidak bisa menulis kalimat yang gramatikal. Solusinya? Bukan mengganti peneliti senior, tapi menyewa proofreader.

Di konteks Indonesia, ini mirip dengan staf yang tugasnya "koordinasi" antara dua departemen yang bisa langsung bicara satu sama lain. Atau staf IT yang tugas hariannya restart server yang sudah seharusnya diganti tiga tahun lalu. Duct-taper tahu masalahnya. Tapi memperbaiki akar masalah berarti menghilangkan pekerjaan mereka sendiri.

Box-Tickers: Pekerjaan yang Mengisi Formulir yang Tidak Dibaca Siapa Pun

Box-tickers adalah pekerjaan yang eksis supaya organisasi bisa mengklaim melakukan sesuatu yang tidak dilakukan. Mereka mengisi formulir, membuat laporan kepatuhan, menyusun dokumen yang tidak dibaca siapa pun.

Satu kesaksian yang Graeber terima: seorang staf di care home yang tugasnya mewawancarai setiap penghuni tentang preferensi hiburan. Dia mengisi formulir, tabulate hasil, ketik laporan. Prosesnya makan waktu begitu lama sampai dia tidak punya waktu untuk menghibur penghuni. Kadang dia sneaking off untuk main piano untuk penghuni, cuma untuk melakukan sesuatu yang bermakna.

Di Indonesia, box-ticker adalah staf yang menyusun laporan KPI bulanan yang tidak dibaca manajemen. Atau staf compliance yang mengisi checklist ISO yang sudah jadi formalitas. Mereka tahu laporannya tidak dibaca. Tapi kalau laporan tidak dibuat, organisasi tidak bisa mengklaim "kami patuh."

Taskmasters: Pekerjaan yang Mendelegasikan Tugas yang Bisa Kamu Kerjakan Sendiri

Taskmasters adalah pekerjaan yang seluruh isinya mendelegasikan tugas ke orang lain. Mereka tidak melakukan pekerjaan itu sendiri. Mereka hanya mengawasi orang lain mengerjakan. Graeber membagi taskmaster jadi dua tipe: yang percaya mereka perlu, dan yang tahu mereka tidak perlu.

Tipe pertama: middle manager yang merasa tanpa mereka, tim akan kacau. Tipe kedua: middle manager yang tahu timnya bisa kerja sendiri tanpa pengawasan, tapi tetap mengadakan daily stand-up meeting 15 menit setiap pagi untuk mengisi waktu.

Angka yang Tidak Bohong

80% Pekerja Global Tidak Engaged

Gallup State of the Global Workplace 2026, yang survei 141,444 pekerja di seluruh dunia, menemukan bahwa hanya 20% pekerja global yang engaged pada 2025. Itu adalah level terendah sejak 2020. Gallup mencatat 64% not engaged, dan 16% actively disengaged.

Global Employee Engagement 2020-2025

Penurunan dari puncak 23% ke 20%

Sumber: Gallup State of the Global Workplace, 2026

Gallup memperkirakan rendahnya engagement ini memicu kerugian produktivitas global hingga 10 triliun dollar AS, atau sekitar 9% dari GDP dunia. Gallup menghitung setiap satu persen penurunan engagement setara dengan 21 juta pekerja yang kehilangan keterikatan dengan kerja mereka.

37% Pekerja UK: Kerja Saya Tidak Bermakna

YouGov melakukan survei pada pekerja UK untuk memverifikasi teori Graeber. Hasil survei YouGov: 37% pekerja UK mengatakan pekerjaan mereka tidak membuat kontribusi yang bermakna bagi dunia. YouGov mencatat 50% mengatakan bermakna, dan 13% tidak yakin.

Survei ulang pada 2025 menunjukkan angka turun tipis ke 33%. Tapi itu masih berarti satu dari tiga pekerja UK merasa kerja mereka tidak berguna. Di Belanda, survei oleh Schouten and Nelissen menemukan angka lebih tinggi: 40%.

92 Juta Pekerjaan akan Hilang pada 2030

World Economic Forum (WEF) dalam Future of Jobs Report 2025 memprediksi 92 juta pekerjaan akan hilang pada 2030 karena otomasi dan perubahan struktural pasar tenaga kerja. Yang pertama hilang adalah clerical dan administrative roles: kasir, teller bank, data entry, asisten administratif.

Empat puluh persen employer berencana mengurangi tenaga kerja di area yang bisa diautomasi oleh AI. Ini bukan spekulasi. Ini data dari survei 1,000 perusahaan di seluruh dunia.

Paradoks Indonesia: Bahagia tapi Hampa

Indonesia punya paradoks yang aneh. Jobstreet by SEEK dalam Workplace Happiness Index 2024 menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan pekerja tertinggi di Asia Pasifik, skor 82 persen. Melampaui Australia dan Singapura.

Tapi dari mana kebahagiaan itu datang? Survei Jobstreet mencatat 77 persen responden menyebut relasi sosial dan lingkungan kerja yang nyaman sebagai sumber utama. Bukan gaji, bukan sistem penghargaan, bukan rasa bahwa kerja mereka bermakna.

Data Bank Dunia 2025 menunjukkan produktivitas tenaga kerja Indonesia tertinggal jauh dibandingkan Singapura dan Malaysia. Kebahagiaan tidak berbanding lurus dengan produktivitas dan makna.

Generasi Z di Indonesia mencatat tingkat kebahagiaan paling rendah, 76 persen. Survei Harvard dan Walton Foundation menemukan hanya 9% Gen Z yang ingin pekerjaan di bidang helping professions, dan hanya separuh dari mereka yang benar-benar mendapatkannya. Survei yang sama menemukan 46 persen Gen Z memilih gaji lebih tinggi daripada pekerjaan yang bermakna.

Kompas melaporkan fenomena "conscious unbossing" di mana 57 persen Gen Z tidak ingin naik ke posisi middle management, berdasarkan data Robert Walters 2024. Mereka tidak mau jadi taskmaster. Mereka tidak mau mengelola pekerjaan yang mereka sendiri ragukan maknanya.

AI sering dibicarakan orang sebagai ancaman untuk pekerjaan. Tapi ada sudut yang terlewat: AI bukan mengancam bullshit jobs, AI justru mengeksposnya.

Kalau tugasmu bisa di-automate oleh ChatGPT dalam 30 detik, pertanyaannya bukan apakah AI akan mengambil pekerjaanmu. Pertanyaannya adalah: apakah pekerjaanmu memang perlu manusia?

WEF 2025 mengonfirmasi: clerical dan administrative roles adalah yang paling cepat hilang. Ini persis kategori box-tickers dan duct-tapers yang Graeber identifikasi lebih dari satu dekade lalu. AI menjadi cermin yang menunjukkan pekerjaan mana yang selama ini terlihat penting tapi bisa dilakukan tanpa manusia.

Periskop.id menulis pada Agustus 2026 bahwa budaya perusahaan yang fokus pada kuantitas aktivitas, bukan nilai kontribusi, memperparah fenomena ini. Karyawan dinilai berkinerja baik karena cepat balas pesan dan rajin hadir rapat. Tanpa pernah diuji apakah rutinitas itu benar-benar memajukan bisnis.

AI membuat tugas-tugas kecil yang dulunya membuat orang terlihat sibuk, seperti menyusun draf dan merangkum dokumen, kini bisa diselesaikan dalam sekejap. Bagi pekerja yang sudah meragukan makna pekerjaan mereka, ini memunculkan pertanyaan mendasar: seberapa penting keberadaan saya di organisasi ini?

Bullshit jobs tidak cuma soal produktivitas yang terbuang. Ada dampak klinis yang nyata: boreout, kondisi kebosanan kronis yang membuat kamu merasa kapasitasmu terbuang sia-sia.

Boreout, pertama kali diperkenalkan oleh Peter Werder dan Philippe Rothlin pada 2007, adalah kondisi kebosanan kronis di tempat kerja akibat pekerjaan yang terlalu monoton, minim tantangan, atau tidak memberi kesempatan untuk berkembang. Berbeda dengan burnout yang dipicu beban kerja berlebih, boreout muncul karena understimulation. Karyawan merasa kapasitas mereka jauh melebihi tuntutan pekerjaan. Penelitian yang dipublikasikan di Paedagogy Journal Desember 2025 sudah mengadaptasi Boreout Scale untuk konteks Indonesia. Dari 105 responden, dua dimensi terbukti valid: crisis of meaning, yaitu persepsi bahwa pekerjaan tidak punya makna, dan job boredom, yaitu kejenuhan akibat tugas yang repetitif. Cronbach alpha 0,838 menunjukkan instrumen ini reliably mengukur boreout di konteks budaya Indonesia.

CNN Indonesia melaporkan pada Juli 2026 bahwa boreout sering disalahartikan sebagai kemalasan. Padahal banyak orang yang mengalami boreout sebenarnya punya kemampuan lebih besar dari yang pekerjaan mereka minta. Mereka tidak terlihat sakit secara fisik. Tapi secara mental, mereka mengalami kekosongan yang parah.

Insight

Saya perhatikan dari diskusi di grup Telegram dan LinkedIn, banyak pekerja muda Indonesia yang ngerasa kerja mereka nggak ada gunanya, tapi tidak bisa mengakuinya. Kalau kamu bilang "kerja saya nggak ada gunanya," orang akan bilang kamu tidak tahu bersyukur. Padahal yang kamu rasakan adalah hal yang sudah diberi nama oleh Graeber lebih dari satu dekade lalu.

Bullshit jobs bukan masalah pekerja. Ini adalah masalah sistem yang menciptakan pekerjaan tanpa guna untuk menjaga hierarki power. Di korporasi besar, tidak ada insentif untuk menghilangkan pekerjaan yang tidak perlu. Prestise eksekutif diukur dari berapa banyak bawahan. Semakin banyak staf, semakin penting kelihatan departemennya. Semakin besar anggaran, semakin sulit dipotong tahun depan. Paradoks Indonesia memperkuat ini. Pekerja kita paling bahagia di Asia Pasifik, tapi kebahagiaan itu datang dari relasi sosial, bukan dari makna kerja. Kita bahagia karena teman di kantor enak. Bukan karena kerja kita mengubah apa-apa. Dan ketika Gen Z menolak naik jabatan, itu bukan kurang ambisi. Itu penolakan terhadap sistem yang meminta mereka menjadi taskmaster untuk pekerjaan yang mereka tahu tidak berguna.

Conclusion

Jadi bukan kamu yang nggak bisa diandalkan. Sistem yang menciptakan pekerjaan tanpa guna, lalu menyalahkan kamu karena nggak semangat. Kamu datang ke kantor, duduk di depan laptop, kerjakan tugas yang kamu sendiri ragukan gunanya, dan pulang dengan perasaan bahwa hari ini tidak menghasilkan apa-apa. Itu bukan kelemahanmu. Itu respons yang wajar terhadap pekerjaan yang memang tidak ada gunanya.

Kalau kamu merasa kerjamu nggak ada gunanya, coba cek apakah kamu masuk salah satu dari lima kategori Graeber. Mungkin kamu bukan quiet quitting karena malas. Mungkin kamu quiet quitting karena pekerjaanmu memang tidak layak dikerjakan dengan sepenuh hati. Mungkin yang kamu alami bukan hustle culture yang dikemas sebagai dedikasi, tapi hustle untuk pekerjaan yang sejak awal tidak punya tujuan.

Dan kalau kamu salah satu dari 57% Gen Z yang menurut Robert Walters tidak ingin jadi bos, itu bukan kamu kurang ambisi. Itu kamu menolak jadi bagian dari sistem yang menciptakan pekerjaan tanpa guna untuk orang lain. Seperti pekerja Indonesia yang menurut survei Jobstreet paling bahagia di Asia tapi 43% burnout, kebahagiaan tanpa makna adalah ilusi yang tidak bertahan lama.

FAQ

Apa itu bullshit jobs?

Bullshit jobs adalah pekerjaan bergaji yang begitu tidak berguna atau bahkan merugikan, sampai karyawannya sendiri tidak bisa membenarkan keberadaannya. Istilah ini diperkenalkan oleh antropolog David Graeber dalam esai 2013 dan dikembangkan jadi buku pada 2018. Graeber mengidentifikasi lima kategori: flunkies, goons, duct-tapers, box-tickers, dan taskmasters.

Apa beda bullshit jobs dengan shit jobs?

Shit jobs adalah pekerjaan buruk yang tidak dihargai, tapi kontribusinya nyata. Tukang sampah, buruh pabrik, cleaning service. Mereka kerja keras, dibayar rendah, tapi tanpa mereka orang berhenti berfungsi. Bullshit jobs kebalikannya: sering punya gaji layak, status terhormat, dan kantor yang nyaman. Tapi kontribusinya tidak ada. Graeber menulis bahwa orang dengan shit jobs jarah merasa pekerjaan mereka tidak berguna. Orang dengan bullshit jobs hampir selalu tahu.

Apakah semua pekerjaan kantor itu bullshit jobs?

Tidak semua. Banyak pekerjaan kantor yang kontribusinya nyata: akuntan yang memastikan pajak dibayar, HR yang menangani sengketa, IT yang menjaga sistem berjalan. Graeber tidak mengklaim semua pekerjaan administratif tidak berguna. Yang ia tunjukkan adalah ada kategori pekerjaan yang tidak punya alasan untuk eksis, dan kategori ini tumbuh, bukan menyusut.

Apa itu boreout dan bedanya dengan burnout?

Boreout adalah kondisi kebosanan kronis di tempat kerja akibat kurang tantangan dan pekerjaan yang tidak bermakna. Burnout adalah kelelahan akibat beban kerja berlebih. Boreout muncul karena understimulation, burnout karena overstimulation. Keduanya sama-sama merusak kesehatan mental. Penelitian Indonesia di Paedagogy Journal Desember 2025 sudah memvalidasi Boreout Scale untuk konteks lokal dengan Cronbach alpha 0,838.

Apakah AI akan menghilangkan pekerjaan saya?

WEF Future of Jobs Report 2025 memprediksi 92 juta pekerjaan akan hilang pada 2030. Yang pertama hilang adalah clerical, administrative, dan data entry. Tapi WEF mencatat AI juga menciptakan 170 juta pekerjaan baru. Pertanyaannya bukan apakah AI akan mengambil pekerjaanmu, tapi apakah pekerjaanmu memang perlu manusia. Kalau tugasmu bisa diautomasi dalam 30 detik, mungkin pekerjaanmu masuk kategori bullshit jobs.

Bagikan:

Newsletter

Satu email per minggu untuk melihat uang, karier, bisnis, dan kehidupan dari sudut yang lebih jernih. Gratis, berhenti kapan saja.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Komentar (0)

Login untuk berkomentar