Lewati ke konten utama
Career Cushioning: Bukan Tidak Loyal, Survival di Era PHK Tanpa Peringatan
Karier•9 MENIT BACA

Career Cushioning: Bukan Tidak Loyal, Survival di Era PHK Tanpa Peringatan

“126 ribu pekerja kena PHK Jan-Mei 2026. 50% profesional Indonesia sudah punya plan B. Career cushioning bukan ketidakloyalan, tapi survival strategy.”

Diterbitkan

Data Apindo per Juli 2026 menunjukkan 126,000 pekerja Indonesia terkena PHK hanya dalam lima bulan pertama 2026. Angka itu berasal dari catatan BPJS Ketenagakerjaan mengenai tenaga kerja nonaktif akibat PHK. Pada periode yang sama, klaim Jaminan Hari Tua akibat PHK sudah mencapai 50,000 klaim.

Bersamaan dengan itu, survei Robert Walters Indonesia bulan Agustus 2024 menemukan 50% profesional di Indonesia sudah mulai mencari pekerjaan baru dalam enam bulan terakhir. Mereka tidak menunggu surat PHK. Mereka tidak menunggu rapat mendadak dengan HR. Mereka sudah bersiap.

Itu bukan ketidakloyalan, tapi survival.

Apa itu career cushioning

Gampangnya: punya cadangan karier saat masih bekerja. Kamu tetap menjalankan pekerjaan saat ini secara optimal, tapi diam-diam mempersiapkan plan B: update profil LinkedIn, ambil kursus online untuk upskill, bangun networking di luar perusahaan, atau mulai side hustle sebagai backup income.

Istilah ini mulai populer pada 2022 pasca gelombang PHK massal COVID-19, menurut Wikipedia. Forbes pada Juli 2024 menjelaskan bahwa career cushioning diadaptasi dari dunia percintaan, di mana "cushioning" berarti menjaga opsi cadangan sambil tetap dalam hubungan saat ini. Konteks kerjanya mirip: tetap di pekerjaan saat ini, tapi punya jaring pengaman kalau situasi berubah.

Berbeda dari quiet quitting yang berarti mengurangi effort kerja ke minimum, atau job hopping yang berarti aktif pindah kerja dalam waktu singkat. Career cushioning tidak mengurangi kualitas kerjamu. Kamu justru menjaga performance agar tidak dicurigai. Yang kamu lakukan adalah menyiapkan diri di luar jam kerja, tanpa sabotase, tanpa konfrontasi.

Kenapa separuh profesional Indonesia merasa perlu punya plan B?

PHK tanpa peringatan dan double standard loyalitas

Angka 126,000 PHK dari Apindo itu lima kali lipat lebih tinggi dari laporan Kemnaker yang hanya mencatat 23,470 pekerja PHK pada periode yang sama menurut Kompas Juni 2026. Kemnaker sendiri merevisi angka mereka menjadi 32,389 untuk semester I 2026 via Kontan Juli 2026. Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia menyatakan angka riil kemungkinan jauh lebih tinggi karena banyak perusahaan tidak melaporkan kejadian PHK ke instansi terkait.

Jawa Barat jadi provinsi dengan PHK tertinggi, 20.77% dari total nasional menurut data Kemnaker. Sektor manufaktur penyumbang terbesar. Shinta Kamdani, Ketua Umum Apindo, menyebut tekanan ekonomi global sebagai pemicu utama.

126,000 orang kehilangan pekerjaan dalam lima bulan, tanpa peringatan, tanpa negosiasi. Itu namanya keputusan bisnis.

Tapi ketika karyawan punya plan B, saat karyawan diam-diam update LinkedIn atau mulai ambil kursus online, itu dibilang tidak loyal.

Itu double standard yang tidak bisa lagi ditutupi. Perusahaan bisa memutus hubungan kerja kapan saja tanpa peringatan, dan itu dianggap keputusan rasional. Karyawan yang bersiap-siap menghadapi kemungkinan itu, dianggap pengkhianat. PHK yang membongkar ilusi kerja keras sudah menunjukkan bahwa tidak ada pekerjaan yang aman, tidak peduli seberapa keras kamu bekerja.

Dan itu baru data PHK. Belum termasuk quiet firing, belum termasuk yang dipaksa resign, belum termasuk yang kontraknya tidak diperpanjang.

Separuh profesional Indonesia sudah diam-diam cari kerja

Survei Robert Walters pada Agustus 2024 melibatkan responden dari berbagai sektor. Hasilnya: hampir setengah dari tenaga kerja terdidik di negeri ini mengaku telah mulai mencari pekerjaan dalam enam bulan terakhir sebagai bagian dari strategi career cushioning.

Faktor utama yang mendorong praktik ini menurut Robert Walters: budaya kerja yang tidak sehat (52%), kepuasan kerja yang rendah (25%), dan kurangnya jaminan keamanan kerja (17%). Taktik yang paling populer menurut survei tersebut: melamar pekerjaan lain (47%) dan mengikuti pelatihan atau meningkatkan keterampilan (42%).

Menurut survei Robert Walters yang sama, 63% profesional meyakini career cushioning dapat mempercepat pencarian pekerjaan mereka. Tapi 47% pengusaha yang disurvei malah melihat career cushioning sebagai cara bagi staf untuk mengembangkan diri dan membawa ide-ide baru ke perusahaan. Tidak semua perusahaan menganggapnya sebagai ancaman.

Rika Tantiana, Senior Manager Robert Walters Indonesia, mengatakan career cushioning makin penting di tengah ketidakpastian ekonomi. Pendekatan ini, menurutnya, membantu mengurangi risiko kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba sekaligus memungkinkan profesional membangun jaringan dan meningkatkan keterampilan.

Di Amerika, angkanya lebih tinggi. Survei Robert Walters AS pada Juni 2024 terhadap 2,500 white-collar professionals menemukan 68% tenaga kerja melakukan career cushioning. Dari survei AS tersebut, 48% menyebut low job satisfaction sebagai alasan, 28% menyebut lack of job security. Taktik utama menurut data survei: applying for jobs (67%) dan monitoring job market (53%).

Data 96% Gen Z terbuka pindah kerja sudah menunjukkan arah ini. Bukan generasi yang tidak mau setia. Generasi yang tidak diberi alasan untuk setia.

Tapi siapa yang paling ketakutan? Gen Z dan ketakutan mereka punya dasar.

Gen Z dan ketakutan yang terverifikasi data

Survei Layoff Anxiety 2024 dilaporkan CNBC menemukan 57% pekerja generasi termuda melaporkan kecemasan terhadap PHK, bandingkan dengan hanya 16% baby boomers. Menurut survei tersebut, 88% dari generasi ini sudah mengambil langkah konkret untuk mempersiapkan diri menghadapi PHK. Bukan sekadar khawatir, tapi sudah bertindak.

Allianz Life pada 2025 melaporkan bahwa 64% Gen Z takut di-PHK dalam tahun ke depan, naik dari 55% beberapa bulan sebelumnya. Angka itu lebih tinggi dari millennials (45%) dan Gen X (41%) menurut Newsweek Juli 2025.

Clarify Capital pada 2025 mensurvei 1,000 orang dewasa AS dan menemukan bahwa 1 dari 3 orang dewasa memiliki layoff anxiety. Gen Z mencapai 40% menurut data Clarify Capital. Lebih dari dua pertiga pekerja sekarang lebih menghargai job security daripada career growth. Hampir 1 dari 3 bersedia mengambil pemotongan gaji 10-20% untuk menghindari PHK menurut survei yang sama.

Ini bukan paranoia. 126,000 PHK dalam lima bulan memvalidasi kecemasan ini. Ketika work-life balance bukan permintaan tapi syarat bertahan, job security juga bukan permintaan. Itu kebutuhan dasar yang sistem tidak jamin.

Career cushioning adalah respons masuk akal dari ketakutan yang punya dasar data. Kamu takut di-PHK, dan kamu punya alasan untuk takut, jadi kamu bersiap.

Tapi ini bukan cuma soal ketakutan. Makna loyalitasnya sendiri sudah berubah.

Loyalitas baru Gen Z: dari patuh ke timbal balik

Jurnal Kurniawan (2025) yang dipublikasikan di Maximal Journal meneliti 15 karyawan Gen Z berusia 20-27 tahun di sebuah perusahaan startup di Makassar. Studi kualitatif ini menemukan career cushioning didorong dua jenis faktor. Eksternal: instabilitas startup dan tekanan ekonomi. Internal: keinginan untuk pengembangan diri.

Temuan kuncinya: dampak career cushioning pada loyalitas bergantung konteks. Di perusahaan dengan budaya fleksibel dan terbuka, career cushioning justru memperkuat komitmen karyawan. Mereka merasa dihargai, jadi mereka stay. Tapi di lingkungan kerja yang restriktif, career cushioning menjadi stepping stone menuju pintu keluar.

Studi ini menemukan loyalitas Gen Z sudah berubah. Dari traditional compliance, di mana karyawan patuh karena itu yang diharapkan, menjadi value-based reciprocity, di mana kesetiaan diberikan jika kesetiaan juga diterima. Selama perusahaan memberikan nilai, karyawan memberikan komitmen. Saat perusahaan berhenti memberikan nilai, karyawan bersiap pergi.

Jurnal lain tentang studi eksplorasi PHK massal di startup Indonesia meneliti 13 pekerja yang lolos dari PHK massal. Penelitian ini menggunakan teori kontrak psikologis Rousseau: karyawan punya pandangan subjektif tentang perjanjian pertukaran dengan perusahaan. Ketika PHK terjadi, karyawan menafsirkan itu sebagai pelanggaran kontrak psikologis. Dampaknya: perasaan dikhianati, penurunan motivasi, keretakan hubungan.

Ini menjelaskan kenapa quiet firing terasa begitu menyakitkan. Dan kenapa quiet quitting bukan kemalasan. Keduanya adalah respons terhadap kontrak yang sudah dilanggar lebih dulu oleh perusahaan.

Transparansi dan komunikasi terbuka, menurut jurnal yang sama, bisa meredam efeknya. Tapi berapa banyak perusahaan di Indonesia yang transparan soal kondisi keuangan dan rencana restrukturisasi?

Jadi bagaimana melakukannya tanpa merasa bersalah?

Career cushioning praktis: bersiap tanpa sabotase

Praktik ini bukan tentang mengabaikan pekerjaan saat ini. Tetap kerja optimal. Tetap deliver. Yang kamu lakukan adalah menambah lapisan perlindungan di luar jam kerja.

Pertama, update CV dan profil LinkedIn. Tidak perlu announce ke kantor. Cukup pastikan profil kamu menampilkan skill dan pencapaian terkini. Kedua, identifikasi skill yang bisa ditransfer ke industri lain. Kalau kamu kerja di startup tech, skill project management kamu bisa dipakai di fintech, e-commerce, atau bahkan industri kreatif. Ketiga, ambil kursus online. Coursera, Udemy, atau platform gratis seperti Google Skillshop. Upskill yang relevan dengan arah karier yang kamu tuju. Keempat, bangun networking di luar perusahaan saat ini. Hadiri meetup industri, join komunitas profesional, reconnect dengan mantan kolega. Kelima, pertimbangkan side hustle sebagai backup income. Tidak perlu full-time, cukup freelance project atau konsultasi yang bisa jadi jaring pengaman kalau pekerjaan utama hilang.

Pemerintah sebenarnya punya jaring pengaman. BPJS Ketenagakerjaan mengelola Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP). JKP memberikan uang tunai selama 6 bulan: 45% x upah untuk 3 bulan pertama, lalu 25% x upah untuk 3 bulan berikutnya. Plus akses ke informasi pasar kerja, konseling, dan pelatihan.

Tapi JKP tidak cukup untuk hidup lama. Itu artinya 45% upah untuk 3 bulan, lalu 25% untuk 3 bulan berikutnya menurut skema BPJS. Kalau gajimu Rp5 juta, bulan pertama kamu dapat Rp2,25 juta dari JKP. Bulan keempat turun jadi Rp1,25 juta dari JKP. Coba bayar kos, makan, transport, cicilan dengan Rp1,25 juta dari JKP di kota besar.

Career cushioning adalah lapisan tambahan di atas JKP. Bukan menggantikan, melengkapi.

Double standard yang tidak bisa lagi ditutupi

Saya perhatikan dari teman-teman bekerja di startup, hampir semua punya LinkedIn selalu up-to-date. Bukan karena mereka mau pindah besok. Tapi karena mereka sudah pernah melihat kolega di-PHK tanpa peringatan. Senin masih kerja normal, Jumat sudah dijemput security dengan kotak kardus. Tidak ada rapat perpisahan. Tidak ada ucapan terima kasih. Hanya email dari HR isinya "dengan berat hati kami informasikan".

126,000 orang mengalami itu dalam lima bulan pertama 2026. Dan 50% profesional Indonesia menurut Robert Walters sudah belajar dari pola itu. Mereka tidak mau jadi orang yang dijemput security dengan kotak kardus tanpa persiapan.

Double standard loyalitas adalah manipulasi narasi. Perusahaan PHK 126,000 orang tanpa peringatan, itu namanya keputusan bisnis. Karyawan punya plan B, itu dibilang tidak loyal. Tapi loyalitas yang hanya menguntungkan satu pihak bukan loyalitas. Itu ketergantungan. Career cushioning adalah cara Gen Z mengubah ketergantungan menjadi otonomi.

Bukan kamu yang tidak loyal

Sistem tidak pernah loyalmu.

Perusahaan bisa PHK kamu kapan saja. 126,000 orang sudah membuktikan itu dalam lima bulan. 50% profesional Indonesia menurut Robert Walters sudah merespons dengan menyiapkan plan B. Bukan karena mereka tidak menghargai pekerjaan mereka. Justru karena mereka menghargai diri mereka sendiri.

Career cushioning bukan pengkhianatan. Itu jawaban rasional terhadap sistem yang tidak menjamin keamanan. Kamu berhak bersiap. Kamu berhak punya cadangan. Loyalitas timbal balik atau tidak sama sekali.

FAQ

Apa itu career cushioning?

Career cushioning adalah strategi punya cadangan karier saat masih bekerja. Termasuk: update profil LinkedIn, upskill, networking, dan diam-diam cari peluang kerja lain. Tujuannya: siap jika terjadi PHK atau perubahan tidak menguntungkan di tempat kerja saat ini.

Bedanya career cushioning dan job hopping apa?

Career cushioning berarti tetap kerja di tempat saat ini sambil diam-diam siapkan plan B. Job hopping berarti aktif pindah kerja dalam waktu singkat karena gaji, jabatan, atau suasana. Career cushioning bersifat jangka panjang dan antisipatif. Job hopping bersifat agresif dan reaktif.

Apakah career cushioning berarti tidak loyal?

Tidak. Career cushioning adalah respons rasional terhadap ketidakpastian kerja. Data Apindo dan BPJS Ketenagakerjaan mencatat 126,000 pekerja PHK Januari-Mei 2026. Perusahaan yang PHK tanpa peringatan tidak berhak mengharapkan loyalitas tanpa cadangan. Loyalitas harus timbal balik.

Bagaimana cara memulai career cushioning?

Mulai dengan: update CV dan profil LinkedIn, identifikasi skill yang bisa ditransfer ke industri lain, ambil kursus online untuk upskill, bangun networking di luar perusahaan saat ini, dan pertimbangkan side hustle sebagai backup income. Lakukan semua di luar jam kerja.

Apa beda career cushioning dan quiet quitting?

Quiet quitting berarti mengurangi effort kerja ke minimum, tidak mau ekstra. Career cushioning berarti tetap kerja optimal di job saat ini, sambil diam-diam siapkan plan B. Career cushioning tidak mengurangi kualitas kerja. Justru menjaga performance agar tidak dicurigai.

Bagikan:

Newsletter

Satu email per minggu untuk melihat uang, karier, bisnis, dan kehidupan dari sudut yang lebih jernih. Gratis, berhenti kapan saja.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Sumber & Metodologi

Data dalam artikel ini bersumber dari publikasi resmi dan laporan media terverifikasi. Pembaca dapat memeriksa sumber asli melalui tautan berikut.

  1. 1.
    Robert Walters Indonesia Survey Aug 2024: 50% profesional Indonesia cari kerja dalam 6 bulan, budaya kerja tidak sehat (52%), kepuasan kerja rendah (25%), kurang jaminan keamanan kerja (17%)
  2. 2.
    Robert Walters US Survey Jun 2024: 68% tenaga kerja AS career cushioning, 2,500 white-collar professionals
  3. 3.
    Layoff Anxiety Survey 2024 via CNBC: 57% Gen Z report layoff anxiety vs 16% baby boomers, 88% Gen Z taking steps to prepare
  4. 4.
    Clarify Capital 2025 via CNBC: 1 in 3 adults layoff anxiety, Gen Z 40%, 2/3 value job security over career growth
  5. 5.
    Allianz Life 2025 via Newsweek: 64% Gen Z fear layoffs in next year, up from 55%
  6. 6.
    Apindo via Kumparan Jul 2026: 126,000 pekerja PHK Jan-Mei 2026 per BPJS Ketenagakerjaan, 50,000 klaim JHT
  7. 7.
    Kemnaker via Kontan Jul 2026: 32,389 buruh PHK semester I 2026, Jawa Barat tertinggi 20.77%
  8. 8.
    Kompas Jun 2026: 23,470 PHK Jan-Mei 2026, sebaran 34 provinsi
  9. 9.
    Jurnal Kurniawan 2025 (Maximal Journal): studi kualitatif 15 Gen Z startup Makassar, loyalitas berubah dari traditional compliance ke value-based reciprocity
  10. 10.
    Jurnal Studi Eksplorasi PHK Massal Gen Z Startup 2025: 13 survivor workers, kontrak psikologis Rousseau
  11. 11.
    BPJS Ketenagakerjaan: JKP uang tunai 6 bulan (45% x upah x 3 bulan + 25% x upah x 3 bulan) + akses pelatihan
  12. 12.
    Forbes Jul 2024: career cushioning origin dari dating world, strategi Plan B saat masih employed
  13. 13.
    Wikipedia: career cushioning term prominence 2022 post-COVID layoffs

Komentar (0)

Login untuk berkomentar