Lewati ke konten utama
Friendship Recession: Gen Z Kehilangan Teman, Bukan Sibuk, Struktur Hidup yang Bikin Sendiri
Kehidupan•12 MENIT BACA

Friendship Recession: Gen Z Kehilangan Teman, Bukan Sibuk, Struktur Hidup yang Bikin Sendiri

“Gen Z kehilangan teman bukan karena HP. Kerja 14 jam, komuter 3 jam, dan biaya nongkrong Rp50 ribu membuat pertemanan jadi mewah yang tidak terjangkau.”

Diterbitkan

Data yang Sulit Diterima

Hampir separuh Gen Z dewasa mengaku tidak punya cukup teman untuk diajak menghabiskan waktu secara tatap muka. Itu hasil survei The Harris Poll terhadap Gen Z Amerika yang dirilis Juli 2026. Angka yang lebih mengkhawatirkan: 17% orang dewasa di Amerika sama sekali tidak punya teman dekat, naik dari 3% pada 1990 menurut Survey Center on American Life.

Di Indonesia, pola yang sama mulai muncul. Data WHO Global School-based Student Health Survey menunjukkan remaja Indonesia yang merasa kesepian hampir sepanjang waktu naik lebih dari dua kali lipat, dari 8,7% pada 2007 menjadi 19% pada 2023. Jumlah remaja tanpa teman dekat meningkat 150%, dari 14 per 1.000 siswa menjadi 35 per 1.000 siswa menurut data WHO GSHS.

Narasi yang beredar: Gen Z kesepian karena terlalu banyak main HP. Tapi kalau kita lihat datanya, HP bukan biang kerok utama. Ada sesuatu yang lebih dalam sedang terjadi pada struktur hidup generasi muda.

Penjelasan yang Sering Didengar

Setiap kali ada artikel tentang kesepian Gen Z, narasi yang muncul hampir selalu sama: media sosial serta gawai membuat anak muda terisolasi. Kompas.com mengutip data GWI 2024 yang menunjukkan 80% Gen Z merasa kesepian dalam setahun terakhir. Penyebab yang disebut: tekanan media sosial, dampak pandemi, dan teknologi yang menggantikan interaksi manusia.

Narasi ini tidak salah, tapi tidak lengkap. Selama dekade yang sama ketika kesepian Gen Z meningkat, ada perubahan lain yang jarang dibahas: jam kerja memanjang, biaya hidup naik, sementara ruang publik untuk bertemu makin mahal. Gen Z tidak kehilangan teman karena tidak mau bertemu. Mereka kehilangan teman karena tidak punya waktu, energi, dan uang untuk bertemu.

Sosiolog menyebut fenomena ini "friendship recession." Penurunan jumlah teman dekat dan waktu berteman, bukan karena preferensi yang berubah, tapi karena tekanan struktural yang membuat pertemanan jadi barang mewah.

Friendship Recession: Waktu Berteman yang Hilang

Dari 6,5 Jam ke 4 Jam per Minggu

Data American Time Use Survey dari Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika menunjukkan waktu yang dihabiskan orang untuk berteman turun 37% antara 2014 dan 2023. Pada awal 2010-an, orang Amerika menghabiskan rata-rata 6,5 jam per minggu untuk berteman dengan teman di luar keluarga. Pada 2019, angka itu anjlok ke 4 jam per minggu.

Analisis Harvard Leadership and Happiness Laboratory pada Februari 2025 mendukung temuan ini. Laporan Harvard tersebut menyebutkan bahwa 77% pekerja Amerika bekerja lebih dari 40 jam per minggu, dan hanya sedikit yang mengambil cuti berbayar penuh. Untuk remaja, waktu berteman tatap muka di luar jam sekolah turun dari 140 menit per hari dua dekade lalu menjadi hanya 40 menit per hari.

Waktu yang hilang itu tidak hilang ke nol. Waktu itu pindah ke layar. Rata-rata remaja menghabiskan hampir 9 jam per hari di depan layar pada 2021, naik dari 7 jam pada 2015. Tapi pertanyaannya: apakah layar yang mengambil waktu berteman, atau struktur hidup yang tidak menyisakan waktu untuk berteman sehingga layar menjadi satu-satunya pilihan?

Waktu Berteman Anjlok, Waktu Sendiri Naik

Perubahan waktu berteman vs waktu sendiri per hari

Sumber: American Time Use Survey + Our World in Data, 2023

17% Tanpa Teman Dekat

Survey Center on American Life melacak jumlah teman dekat orang Amerika sejak 1990. Hasilnya cukup mencengangkan. Data survei menunjukkan pada 1990, hanya 3% yang mengaku tidak punya teman dekat sama sekali. Pada 2021, angka itu naik ke 12% menurut survei yang sama. Pada 2024, data terbaru mencapai 17%.

Kelompok usia 18-29 tahun paling terdampak. Data survei menunjukkan 22% dari mereka melaporkan tidak punya teman dekat. Sementara 49% orang Amerika secara keseluruhan mengaku hanya punya tiga teman dekat atau lebih sedikit, naik dari 27% pada 1990 menurut data yang sama.

Pew Research Center pada 2025 menemukan bahwa sekitar 24% dewasa di bawah 30 tahun merasa kesepian sebagian besar waktu, dibandingkan hanya 6% dari mereka yang berusia 65 tahun ke atas. Generasi muda, yang seharusnya berada di puncak kapasitas sosial, justru menjadi kelompok paling kesepian.

Indonesia: Remaja Makin Kesepian, Teman Makin Sedikit

GSHS 2007 vs 2023: Kesepian Naik Dua Kali Lipat

Data WHO Global School-based Student Health Survey memberi gambaran jelas tentang tren kesepian di Indonesia. Data GSHS menunjukkan pada 2007, hanya 8,7% remaja usia 13-15 tahun yang mengaku merasa kesepian hampir sepanjang waktu. Pada 2023, angka itu melonjak menjadi 19% menurut survei yang sama.

Yang lebih mencemaskan: proporsi remaja yang sama sekali tidak memiliki teman dekat meningkat dari 14 per 1.000 siswa pada 2007 menjadi 35 per 1.000 siswa pada 2023. Kenaikan 150% dalam waktu 16 tahun menurut data GSHS.

Tin Afifah, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional yang menganalisis data GSHS 2023, mengaitkan peningkatan ini dengan perubahan struktur sosial yang cepat antara 2007 dan 2023. Kehadiran gawai dan media sosial berkontribusi, tapi bukan satu-satunya faktor.

19,97% Indonesia Merasa Kesepian Minimal Sekali Seminggu

Litbang Kompas pada Juni 2025 mensurvei 512 responden dari 38 provinsi. Hasil survei Litbang Kompas, sekitar satu dari lima orang Indonesia (19,97%) mengaku merasa kesepian setidaknya sekali dalam sepekan. Sepertiga dari mereka mengalami kesepian hampir setiap hari.

Data Litbang Kompas menunjukkan Yogyakarta menjadi provinsi dengan proporsi kesepian tertinggi, sekitar 66% responden merasa kesepian sedikitnya sepekan sekali. Data ini sejalan dengan laporan WHO yang mencatat prevalensi kesepian di kawasan Asia Tenggara sebesar 18,3%.

Penelitian terbaru dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada yang dipublikasikan di Jurnal Ilmiah Peuradeun pada Februari 2026 melibatkan 527 responden Gen Z dari berbagai wilayah Indonesia. Studi ini menemukan bahwa self-compassion dan self-acceptance berperan besar dalam menurunkan tingkat kesepian. Tapi penelitian ini menggunakan pendekatan multidimensi yang mengintegrasikan aspek psikologis, sosial, dan spiritual. Artinya, kesepian Gen Z Indonesia bukan masalah psikologis semata. Ada dimensi sosial dan struktural yang ikut berperan.

Kapasitas Sosial yang Terkuras

Time Poverty: 8 Jam Kerja yang Makan 14 Jam Hidup

Salah satu artikel TAM sebelumnya membahas time poverty Gen Z: 8 jam kerja yang makan 14 jam hidup. Konsepnya sederhana. Jam kerja resmi mungkin 8 jam, tapi total waktu yang terkait dengan kerja (persiapan, komuter, lembur, kerja yang dibawa pulang) bisa mencapai 14 jam sehari.

Setelah 14 jam, apa yang tersisa? Mungkin 2-3 jam sebelum tidur. Dan di waktu itu, energi sosial sudah habis. Berteman butuh energi. Mendengar cerita teman, tertawa bareng, bahkan sekadar membalas chat butuh kapasitas mental yang setelah kerja 14 jam tinggal sedikit.

Data dari Harvard Happiness Lab mendukung ini. Laporan Harvard Februari 2025 menyebutkan bahwa 77% pekerja Amerika bekerja lebih dari 40 jam per minggu, dan pekerja Amerika menghabiskan rata-rata 1.799 jam per tahun, 182 jam lebih banyak dari rata-rata OECD. Orang Amerika menghabiskan 1 jam 39 menit lebih banyak di rumah per hari dibanding dua dekade lalu. Tapi waktu ekstra di rumah itu tidak digunakan untuk koneksi sosial. Waktu bersama keluarga pun turun dari 262 menit per hari pada 2003 menjadi 243 menit pada 2019.

7,7 Juta Komuter: Perjalanan yang Makan Energi Sosial

BPS mencatat 7,7 juta pekerja Indonesia menjadi komuter pada 2025, naik dari 7,6 juta pada 2024. Komuter adalah pekerja yang melakukan perjalanan pulang-pergi harian ke luar kabupaten atau kota tempat tinggalnya. Data BPS menunjukkan Jawa Barat menjadi daerah dengan jumlah komuter terbanyak, sekitar 1,89 juta orang.

Komuter di Jabodetabek rata-rata menghabiskan 2-3 jam per hari di jalan. Waktu itu bukan waktu produktif. Itu waktu yang dihabiskan menunggu, berdiri di keramaian, dan bertahan. Setelah sampai rumah pukul 8 malam, ide untuk keluar bertemu teman terdengar seperti lelucon.

BPS juga melaporkan bahwa migrasi permanen menurun ke 3,4 juta orang atau 2,3% dari total pekerja, terendah dalam satu dekade. Artinya, makin banyak orang yang memilih komuter daripada pindah. Mereka tetap tinggal di daerah asal, tapi setiap hari mereka terpisah dari komunitas lokal mereka. Mereka tidak punya waktu untuk berteman di tempat kerja (karena harus cepat pulang), dan tidak punya waktu untuk berteman di tempat tinggal (karena baru sampai malam).

Biaya Nongkrong Rp50 Ribu: Pertemanan Jadi Mewah

Rp1,5 Juta per Bulan untuk Berteman

Bambang Budiarto, pakar ekonomi dari Universitas Surabaya, menghitung bahwa rata-rata pengeluaran anak muda di kafe berkisar Rp40.000 hingga Rp50.000 per kunjungan. Menurut hitungannya, dengan frekuensi 20 hari per bulan, total pengeluaran bisa mencapai Rp1,5 juta per bulan. Bagi pekerja muda dengan gaji UMR yang berkisar Rp3-4 juta di kota besar, Rp1,5 juta untuk nongkrong berarti hampir 40% gaji habis untuk "fun" menurut perhitungan yang sama.

Dan ini bukan sekadar kopi. Penelitian dari IPB University menunjukkan bahwa Gen Z memilih coffee shop bukan hanya karena rasa kopi, tapi karena suasana serta pengalaman sosial. Artinya, yang dibeli bukan cuma minuman. Yang dibeli adalah akses ke ruang publik untuk berteman. Dan akses itu makin mahal.

68% Gen Z: Nongkrong Tidak Worth Biaya

The Harris Poll pada Juli 2026 menemukan bahwa 68% Gen Z setuju bahwa nongkrong tidak sepadan dengan kerusakan yang ditimbulkan pada dompet. Survei Harris Poll juga menemukan 62% menghindari membuat rencana akhir pekan karena tidak ingin merasakan penyesalan finansial setelahnya.

Data Harris Poll juga menunjukkan 42% Gen Z yang menyewa tempat tinggal mengaku tidak mampu mengeluarkan uang untuk "fun." Survei yang sama mencatat 41% perempuan Gen Z mengatakan hal yang sama. Biaya pertemanan telah menjadi penghalang struktural, bukan pilihan gaya hidup.

Tren "loud budgeting" yang muncul di kalangan Gen Z Indonesia pada 2026 mengkonfirmasi ini. Gen Z di Surabaya dan kota-kota besar mulai secara terbuka menyatakan tidak mampu nongkrong mahal, mengalihkan dana ke investasi emas. Bukan karena tidak mau berteman, tapi karena tidak ada ruang pertemanan yang terjangkau.

Pindah Kota untuk Kerja: Akar Sosial yang Terputus

40% Pemuda Indonesia Pernah Migrasi

BRIN melalui Pusat Riset Kependudukan pada 2025 menemukan bahwa 40% pemuda Indonesia pernah bermigrasi setidaknya sekali seumur hidup. Rata-rata pemuda mengalami 0,86 migrasi antar kabupaten/kota. Mereka yang berpendidikan tinggi lebih sering berpindah, dengan rata-rata 2,14 kali bermigrasi.

Setiap pindah kota berarti memutus akar sosial. Teman sekolah, tetangga, komunitas lokal, semua tertinggal. Dan membangun pertemanan baru di kota yang asing butuh waktu dan ruang yang tidak selalu tersedia. Ini menjelaskan mengapa adulting terasa seperti sistem yang memaksa kamu mandiri sebelum siap. Kamu tidak cuma pindah kerja. Kamu pindah seluruh jaringan sosialmu.

Remote Work: Proximity yang Hilang

Remote work, yang awalnya dianggap solusi, justru memperparah masalah. Friendship recession data dari friendshiprecession.com menunjukkan bahwa remote work menghapus salah satu dari sedikit tempat di mana orang dewasa rutin bertemu. Kantor tidak sempurna, tapi memberi alasan untuk saling bertemu lima hari seminggu. Sosiolog menyebut ini "proximity" dan "frequency," dua syarat yang jarang terpenuhi tanpa pertemuan rutin.

Tanpa kantor, tanpa komunitas lokal, dan tanpa waktu luang, di mana Gen Z seharusnya bertemu teman? Koneksi digital yang membuat tatap muka terasa seperti beban menjadi default, bukan karena pilihan, tapi karena tidak ada alternatif yang terjangkau.

Pengamatan dari Lapangan

Saya perhatikan di lingkaran teman saya sendiri. Yang paling sering absent dari kumpul-kumpul bukan yang paling anti-sosial. Yang paling sering absent adalah yang kerjanya paling jauh, yang komuternya paling lama, yang gajinya paling tipis. Mereka tidak ghosting pertemanan. Mereka tidak punya kapasitas untuk hadir.

Pertemanan butuh tiga hal: proximity (dekat secara fisik), frequency (sering bertemu), serta energy (punya kapasitas mental untuk berinteraksi). Struktur hidup modern menghapus ketiganya secara bersamaan. Kerja 14 jam hapus energy, komuter 3 jam hapus waktu, pindah kota hapus proximity. Biaya nongkrong Rp50 ribu, menurut data dari Universitas Surabaya, hapus akses ke ruang publik. Dan ketika semua itu hilang, layar menjadi satu-satunya tempat untuk merasa terhubung.

Tapi koneksi digital punya masalah. Seperti yang dibahas di artikel tentang kesepian yang dibungkus estetik algoritma TikTok, media sosial tidak mengobati kesepian. Justru sebaliknya, ia menciptakan ilusi koneksi yang membuat kesepian terasa lebih normal. Gen Z bahkan mulai curhat ke AI ketika mesin menjadi ruang aman. Bukan karena mereka lebih suka mesin dari manusia. Karena mesin selalu ada, gratis, tanpa minta kamu keluar rumah.

Kesepian Gen Z tidak akan teratasi dengan nasihat "kurangi main HP" atau "join komunitas." Nasihat itu berasumsi Gen Z punya waktu dan uang untuk melakukannya. Data menunjukkan mereka tidak punya. Warisan stres dari orang tua sudah membuat beban mental mereka berat sebelum ditambah tuntutan untuk "lebih sosial."

Kerugian yang Ditanggung Sendirian

Friendship recession bukan cerita tentang generasi yang malas berteman. Ini cerita tentang sistem ekonomi yang tidak dirancang untuk menyisakan ruang bagi pertemanan. Ketika data Harvard menunjukkan 77% pekerja bekerja lebih dari 40 jam per minggu, ketika data BPS mencatat 7,7 juta orang menghabiskan 3 jam per hari untuk komuter, ketika nongkrong sekali habis Rp50 ribu menurut Universitas Surabaya, pertemanan menjadi barang mewah yang hanya bisa diakses oleh mereka yang punya waktu dan uang berlebih.

Data The Harris Poll menunjukkan 49% Gen Z tidak punya cukup teman untuk diajak nongkrong. Bukan karena mereka tidak mau. Karena sistem tidak memberi mereka kesempatan untuk mempertahankan pertemanan. Dan ketika kehilangan teman terasa lebih sakit dari putus cinta, kerugian itu ditanggung sendirian, dalam kamar, di depan layar.

Pertanyaannya bukan apakah Gen Z bisa punya teman. Pertanyaannya: apakah sistem memberi mereka waktu dan ruang untuk itu?

FAQ

Apa itu friendship recession?

Friendship recession adalah penurunan jumlah teman dekat dan waktu yang dihabiskan untuk berteman secara drastis. Data Survey Center on American Life menunjukkan 17% orang dewasa Amerika tidak punya teman dekat di 2024, naik dari 3% pada 1990. Waktu berteman turun 37% antara 2014 dan 2023 menurut American Time Use Survey.

Kenapa Gen Z paling kesepian?

Pew Research Center pada 2025 menemukan 24% dewasa di bawah 30 tahun merasa kesepian sebagian besar waktu, tertinggi dari semua kelompok usia. Faktor utama bukan media sosial semata, melainkan kombinasi jam kerja panjang, komuter, biaya sosial yang mahal, dan pindah kota untuk kerja yang memutus akar sosial.

Apakah media sosial penyebab kesepian Gen Z?

Media sosial memperparah kesepian tapi bukan akar masalah. Data American Time Use Survey menunjukkan waktu berteman turun 37% (2014-2023) sejalan dengan meningkatnya jam kerja dan biaya hidup, bukan hanya penggunaan gawai. Survei Harris Poll menemukan 68% Gen Z menghindari nongkrong karena tidak terjangkau, menunjukkan faktor ekonomi berperan besar.

Bagaimana cara mengatasi kesepian Gen Z?

Tidak ada solusi instan. Yang membantu: jadwalkan waktu berteman seperti jadwal kerja, cari aktivitas low-cost untuk bertemu, dan prioritaskan 1-2 teman dekat daripada banyak kenalan. Tapi solusi individu tidak cukup. Diperlukan perubahan struktur: jam kerja yang masuk akal serta ruang publik yang terjangkau.

Apakah kesepian Gen Z terjadi di Indonesia?

Ya. Litbang Kompas 2025 menemukan 19,97% orang Indonesia merasa kesepian minimal sekali seminggu. Data WHO GSHS menunjukkan remaja Indonesia yang kesepian naik dari 8,7% (2007) menjadi 19% (2023). Penelitian UGM 2026 juga mengkonfirmasi tingginya tingkat kesepian Gen Z Indonesia dengan faktor multidimensi.

Bagikan:

Newsletter

Satu email per minggu untuk melihat uang, karier, bisnis, dan kehidupan dari sudut yang lebih jernih. Gratis, berhenti kapan saja.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Sumber & Metodologi

Data dalam artikel ini bersumber dari publikasi resmi dan laporan media terverifikasi. Pembaca dapat memeriksa sumber asli melalui tautan berikut.

  1. 1.
  2. 2.
  3. 3.
  4. 4.
  5. 5.
  6. 6.
  7. 7.
  8. 8.
  9. 9.
  10. 10.
  11. 11.
  12. 12.
  13. 13.

Komentar (0)

Login untuk berkomentar