
Secondhand Stress: Bukan Cemas Sendiri, Warisan Stres Orang Tua yang Gen Z Bawa Tanpa Sadar
“64 persen Gen Z Indonesia stres finansial. Tapi sebagian kecemasan itu bukan milik mereka, melainkan warisan emosional dari orang tua. Ini datanya.”
Semua bilang Gen Z cemas karena lemah, terlalu sensitif, tidak tahan banting. Tapi 64 persen Gen Z Indonesia mengalami stres finansial menurut data BTN 2026. Dan 86.7 persen khawatir soal keuangan orang tua mereka di masa pensiun, berdasarkan survei Syarifudin Yunus bulan Maret 2025 yang melibatkan 75 responden Gen Z di Jakarta. Kecemasan itu bukan muncul dari kosong. Sebagian besar bukan milik Gen Z sendiri.
Kenapa Rumah Gen Z Tidak Pernah Benar-Benar Tenang Soal Uang
Bayangkan tumbuh di rumah di mana setiap percakapan soal uang selalu diawasi dengan ketegangan. Itu rumah Gen Z Indonesia. Orang tua mereka adalah generasi yang survive krisis 1998, melihat rupiah anjlok dari 2.600 ke 17.000 per dolar dalam hitungan bulan, menurut data Kompas. Inflasi 77.1 persen di tahun itu, menurut data yang sama. PDB kontraksi 13.1 persen, catatan Kompas. PHK massal dan kerusuhan sosial di mana-mana.
Trauma ekonomi itu tidak pernah diakui, tapi terbawa ke setiap percakapan soal uang. Setiap tegangan saat bayar tagihan. Setiap kalimat "kita tidak mampu" yang terlontar tanpa sadar. Setiap kali orang tua memutuskan sesuatu dengan alasan uang, anak menyerap pesan itu tanpa tahu namanya.
Gen Z tumbuh dan membawa semua itu. Mereka kira kecemasan soal uang itu kelemahan diri. Padahal sebagian adalah warisan emosional yang tidak pernah diberi nama.
Apa Itu Secondhand Stress dan Kenapa Kamu Bisa Ketularan
Secondhand stress adalah stres yang kamu alami karena orang di sekitarmu sedang stres, tanpa kamu sendiri mengalami stresor aslinya. Kamu menyerap ketegangan orang lain dan tubuh kamu merespons seolah bahaya itu milik kamu.
Dr. Benjamin Kaplan dari Orlando Health menjelaskan bahwa stres bisa menular melalui ekspresi wajah, nada bicara, bau, dan sentuhan. Tubuh orang yang stres melepaskan sinyal kimia yang menjadi airborne, memicu amigdala di otak orang yang menghirupnya. Amigdala adalah pusat pemrosesan emosi dan pengambilan keputusan.
Sebuah studi yang dilansir Kompas pada Januari 2026 menguji ini dengan mengekspos keringat 144 skydiver pertama kali kepada partisipan lab. Hasilnya, zat kimia stres dari keringat skydiver memicu aktivasi amigdala di otak partisipan yang tidak pernah melompat dari pesawat. Mereka hanya menghirup, dan otak mereka sudah memproses bahaya.
Orang yang kamu kenal punya efek lebih kuat. Menurut Orlando Health, kamu 4 kali lebih mungkin ketularan stres dari orang yang kamu kenal: keluarga, teman, rekan kerja. Bukan dari orang asing di mall. Dari orang yang kamu lihat setiap hari di meja makan.
Bukti Ilmiah: Stres Orang Tua Benar-Benar Menular ke Anak
Cortisol Covariation: Hormon Stres Orang Tua dan Anak Berdetak Bersama
Riset terbaru membuktikan bahwa penularan stres dari orang tua ke anak bukan sekadar teori. Sebuah studi di jurnal Psychoneuroendocrinology tahun 2025 mengukur cortisol (hormon stres) 77 pasang orang tua dan remaja dalam kehidupan harian mereka. Hasilnya, level cortisol remaja berkovariasi dengan level cortisol orang tua. Ketika orang tua stres, hormon stres anak ikut naik, bahkan saat anak tidak mengalami stresor sendiri.
Penelitian yang sama menemukan bahwa kovariasi cortisol ini terkait dengan empathic stress yang sebelumnya hanya diukur di laboratorium. Artinya, apa yang terjadi di lab juga terjadi di rumah. Setiap hari. Tanpa ada yang menyadarinya.
Emotional Contagion Harian: Bagaimana Suasana Hati Orang Tua Menyebar
Jurnal Research on Adolescence tahun 2024 melacak 191 remaja Taiwan selama 10 hari menggunakan diary harian. Temuannya: emosi negatif orang tua pada hari tertentu terkait dengan peningkatan emosi negatif remaja pada hari yang sama. Dan ini bidirectional. Anak juga menularkan emosi negatif ke orang tua.
Tapi arah yang lebih berdampak adalah dari orang tua ke anak. Anak menyerap suasana hati orang tua sebagai baseline emosi mereka sendiri. Ketika rumah tegang, anak tidak bertanya kenapa. Anak hanya merasa tegang juga. Dan ketegangan itu terakumulasi.
Stres Ibu Lebih Kuat Memprediksi Fungsi Kognitif Anak Daripada Stres Anak Sendiri
Studi di Nature Communications Psychology tahun 2024 mengukur 76 pasang ibu dan anak. Temuannya mengejutkan: stres ibu, baik akut maupun selama sebulan terakhir, lebih baik memprediksi performa kognitif anak daripada stres anak sendiri. Anak yang orang tuanya stres menunjukkan fungsi eksekutif yang lebih rendah, bahkan setelah mengontrol stres anak sendiri.
Ini berarti stres orang tua menular secara emosional sekaligus mengubah cara anak berpikir dan kapasitas kognitif mereka. Bukan karena anak lemah. Karena sistem saraf anak menyerap dan memproses ketegangan orang tua sebagai bagian dari realitas mereka sendiri.
Gen Z Indonesia dan Warisan Kecemasan Finansial
64 Persen Gen Z Stres Finansial: Bukan Hanya Soal Gaji Kecil
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, mengungkapkan pada kuliah umum di Universitas Airlangga bulan Juni 2026 bahwa 64 persen Gen Z Indonesia mengalami stres finansial. Kondisi ini memicu fenomena doom spending, yaitu belanja impulsif karena pesimisme terhadap masa depan.
Menurut data BTN, faktor pemicunya: kenaikan biaya hidup (53 persen), keinginan merasa lebih baik (35 persen), dan utang impulsif (32 persen). Hanya 28 persen Gen Z yang rutin memverifikasi nasihat dari influencer finansial yang mereka ikuti, menurut data yang sama. Sisanya, 72 persen, mengambil keputusan finansial berdasarkan nasihat yang tidak terverifikasi.
Data ini menunjukkan bahwa kecemasan finansial Gen Z bukan hanya soal berapa gaji mereka. Ini soal hubungan psikologis dengan uang yang bentuknya tidak sederhana. Gen Z yang gajinya cukup tetap bisa merasa tidak aman. Bukan karena mereka boros. Karena ada suara di dalam kepala mereka yang bilang uang selalu kurang, meski faktanya tidak.
86.7 Persen Khawatir Soal Keuangan Orang Tua: Beban yang Tidak Diminta
Survei oleh Syarifudin Yunus, asesor LSP Dana Pensiun, pada Maret 2025 melibatkan 75 responden Gen Z di Jakarta. Hasil surveinya: 86.7 persen Gen Z khawatir soal kondisi finansial orang tua mereka di masa pensiun. Survei yang sama menemukan 66.7 persen tidak yakin orang tua mereka bisa bebas finansial di hari tua. Dan 53.3 persen bersedia menyisihkan 10 persen dari gaji untuk membantu orang tua nanti, menurut survei yang sama.
Ini data yang menjelaskan kenapa Gen Z tidak bisa tenang soal uang. Mereka mengkhawatirkan keuangan sendiri sekaligus keuangan orang tua. Beban ganda ini tidak pernah diminta, tapi melekat pada mereka sejak sadar bahwa orang tua mereka tidak punya dana pensiun yang cukup.
Situasi ini diperparah oleh data Kompas Mei 2026 yang menunjukkan 46.3 persen Gen Z Indonesia berada dalam posisi sandwich generation, menanggung beban finansial ke atas dan ke bawah, seperti yang sudah pernah kita bahas dalam artikel tentang sandwich generation yang gajinya dikirim ke kampung.
Doom Spending: Belanja Impulsif sebagai Pelarian dari Kecemasan Warisan
Doom spending bukan sekadar boros. Ini respons psikologis terhadap kecemasan yang terasa tidak berujung. Ketika masa depan terasa suram, belanja menjadi cara untuk merasa punya kendali, sekalipun kendali itu palsu. Kita sudah membahas ini lebih dalam dalam artikel tentang doom spending sebagai gejala menyerah.
Data BTN juga menunjukkan faktor "keinginan merasa lebih baik" (35 persen). Ini bukan kebutuhan. Ini pelarian emosional. Dan pelarian emosional soal uang sering berakar pada pengalaman masa kecil di mana uang selalu terasa sebagai sumber ketegangan, bukan sumber kenyamanan.
Laporan HHS dan NCBI menunjukkan bahwa 66 persen orang tua habis dikonsumsi kekhawatiran soal uang, dibandingkan 39 persen dewasa lainnya. Laporan yang sama mencatat 41 persen orang tua mengatakan stres mereka sudah sedemikian parah sehingga mereka tidak bisa berfungsi normal. Dan APA melaporkan 33 persen orang tua mengalami stres tinggi versus 20 persen dewasa lainnya, dengan hingga 5 juta orang tua di AS mengalami parental burnout setiap tahun.
Orang tua Gen Z stres soal uang. Gen Z menyerap stres itu. Lalu Gen Z disalahkan karena cemas soal uang.
Krisis 1998: Akar Trauma Ekonomi Orang Tua Gen Z
Rupiah Anjlok, Inflasi 77 Persen: Ketika Uang Mendadak Tidak Berarti Apa-Apa
Krisis moneter 1998 adalah salah satu krisis ekonomi terburuk dalam sejarah modern Indonesia, menurut catatan Kompas. Nilai tukar rupiah terhadap dolar anjlok dari sekitar 2.600 per dolar pada awal 1997 menjadi lebih dari 17.000 per dolar di puncak krisis. Inflasi melonjak hingga 77.1 persen pada 1998, menurut data yang sama. PDB Indonesia mengalami kontraksi sebesar 13.1 persen, penurunan terbesar dalam sejarah negara ini, catatan Kompas.
Bagi orang tua Gen Z, ini bukan angka di buku sejarah. Ini pengalaman langsung. Mereka melihat tabungan menguap. Harga kebutuhan pokok berubah dari hari ke hari. Tetangga kehilangan pekerjaan. Perusahaan tutup. Bank-bank ditutup pemerintah tanpa payung pengaman, memicu kepanikan massal.
PHK Massal dan Kerusuhan: Trauma yang Tidak Pernah Diproses
Krisis 1998 menghancurkan ekonomi sekaligus mental masyarakat. Jurnal AIPJ tahun 2018 mencatat bahwa krisis 1997-1998 menyebabkan gangguan stres pasca-trauma (PTSD) di Indonesia. Penanganan dampak psikologis dari krisis ini kurang mendapat perhatian.
Mantan Wakil Presiden Boediono mengakui bahwa krisis 1998 memberikan dampak psikologis yang besar bagi masyarakat. Kepercayaan pelaku ekonomi terhadap solvabilitas negara sangat rendah. Masyarakat secara serentak memindahkan dananya, bahkan ke luar negeri, karena tidak lagi percaya pada sistem.
Trauma ekonomi ini tidak pernah diproses. Tidak ada terapi massal. Tidak ada pengakuan kolektif bahwa generasi itu terluka. Mereka hanya dipanggil untuk bangkit, bekerja keras, dan move on. Dan cara mereka move on adalah dengan menanamkan ketakutan soal uang ke anak-anak mereka, tanpa sadar.
Bagaimana Trauma Ekonomi Berubah Menjadi Percakapan Sehari-Hari
Trauma yang tidak diproses tidak hilang. Trauma berubah bentuk: percakapan sehari-hari dengan nada tegang saat membahas tagihan, keputusan kecil yang selalu mempertimbangkan skenario terburuk, kalimat "kita tidak mampu" yang terlontar bahkan ketika sebenarnya mampu.
Gen Z tumbuh mendengar semua itu. Mereka tidak tahu konteksnya. Mereka tidak tahu orang tua mereka trauma karena krisis 1998. Mereka hanya tahu bahwa di rumah mereka, uang selalu jadi sumber ketegangan. Dan mereka membawa ketegangan itu ke dewasa, mengira itu bagian dari kepribadian mereka.
Money Scripts: Pola Pikir Uang yang Gen Z Warisi Tanpa Sadar
Empat Pola Pikir Uang dari Masa Kecil yang Masih Kendalikan Keputusan Finansial
Psikolog keuangan Dr. Brad Klontz memperkenalkan konsep money scripts: keyakinan bawah sadar tentang uang yang terbentuk sejak masa kecil. Ada empat pola utama. Money avoidance: menghindari urusan uang karena dianggap sumber masalah. Money worship: memuja uang sebagai solusi semua masalah. Money status: menilai harga diri dari jumlah uang. Money vigilance: terlalu cemas dalam mengatur uang.
Tiga dari empat pola ini berkaitan dengan pendapatan lebih rendah dan kekayaan bersih lebih kecil. Artinya, pola pikir yang terbentuk dari pengalaman masa kecil memengaruhi perasaan dan hasil finansial nyata.
Bagaimana Percakapan Orang Tua Soal Uang Membentuk Kecemasan Gen Z
Pengalaman melihat orang tua bertengkar soal tagihan, sering mendengar "kita tidak mampu", atau tumbuh di rumah yang penuh kecemasan soal uang membentuk cara pandang seseorang sampai dewasa. Riset dalam npj Mental Health Research menunjukkan bahwa perubahan stres finansial lebih berpengaruh pada kesehatan mental dibanding perubahan jumlah pendapatan itu sendiri. Artinya, rasa kurang bisa lebih melelahkan daripada kondisi keuangan yang ada.
Universitas Pendidikan Nasional mengidentifikasi fenomena money dysmorphia pada Gen Z: kondisi ketika seseorang merasa tidak pernah cukup secara finansial, meskipun secara objektif berada dalam kondisi yang aman. Ini bukan gangguan klinis. Ini pola pikir yang terbentuk dari tahun-tahun menyerap ketegangan orang tua soal uang.
Gen Z yang mengalami money dysmorphia tidak bisa menikmati hasil kerja mereka. Selalu merasa tertinggal dan membandingkan. Bukan karena mereka tidak punya uang. Karena suara di dalam kepala mereka, yang berakar dari atmosfer rumah masa kecil, terus bilang uang tidak akan pernah cukup.
Kecemasan Itu Nyata, Tapi Sebagian Bukan Milikmu
Saya perhatikan dari teman-teman saya yang Gen Z, mereka yang paling cemas soal uang bukan selalu yang gajinya paling kecil. Yang paling cemas adalah mereka yang tumbuh mendengar orang tua bertengkar soal tagihan, yang ibunya selalu bilang "jangan boros" bahkan untuk beli sesuatu yang wajar, yang ayahnya menghitung uang dengan wajah tegang setiap akhir bulan. Mereka bawa ketegangan itu ke gaji pertama, ke tabungan pertama, ke setiap keputusan belanja. Mereka kira itu kehati-hatian, padahal itu kecemasan warisan.
Data mendukung observasi ini. Kecemasan finansial Gen Z bukan hanya soal media sosial, gaji kecil, atau ekonomi saat ini. Sebagian besar adalah warisan emosional dari orang tua yang tumbuh di krisis 1998, stres soal uang yang menular melalui atmosfer rumah, percakapan sehari-hari, dan perilaku keuangan yang tegang. Gen Z bawa beban yang bukan milik mereka dan kira itu kelemahan diri.
Riset 2024-2025 membuktikan hormon stres orang tua dan anak berkovariasi dalam kehidupan harian. Stres ibu lebih kuat memprediksi fungsi kognitif anak daripada stres anak sendiri. Ini bukan teori. Ini mekanisme biologis yang terukur. Seperti yang kita bahas dalam artikel tentang 60 persen Gen Z cemas soal masa depan, kecemasan Gen Z bukan mental lemah. Sistemnya yang tidak pasti. Dan sebagian ketidakpastian itu diwariskan dari generasi sebelumnya.
Kecemasan warisan ini bisa berujung pada emotional exhaustion yang membuat kamu kosong, atau lebih parah lagi, pada doomerism dan pesimisme Gen Z yang membuat mereka menyerah sebelum mencoba.
Bukan Kamu yang Lemah
Jadi kalau kamu merasa cemas terus soal uang, padahal gajimu cukup, itu bukan karena kamu lemah atau terlalu sensitif. Kamu membawa kecemasan yang bukan mulai dari kamu, melewati orang yang tidak pernah bermaksud menularkannya. Orang tua kamu juga tidak tahu. Mereka hanya survive. Dan cara mereka survive meninggalkan jejak di sistem saraf kamu.
Kabar baiknya: kalau kecemasan itu menular, berarti kamu juga bisa memutus rantainya. Bukan dengan menyalahkan orang tua. Bukan dengan menghapus masa kecil. Tapi dengan sadar bahwa beban itu ada, dan sebagian bukan milikmu untuk dipikul. Karena kalau kamu tidak sadar, kecemasan warisan itu bisa berujung pada learned helplessness bukan malas, di mana kamu berhenti mencoba karena merasa tidak ada gunanya.
Mulai perhatikan kapan kecemasan finansial muncul. Apakah karena kondisi keuanganmu saat ini, atau karena suara orang tua yang masih terngiang soal uang yang susah. Perbedaan itu penting. Karena yang pertama bisa diatasi dengan anggaran. Yang kedua butuh kesadaran bahwa suara itu bukan suaramu.
FAQ
Apa itu secondhand stress?
Secondhand stress adalah stres yang kamu alami karena orang di sekitarmu sedang stres, tanpa kamu sendiri mengalami stresor aslinya. Kamu bisa menyerap stres melalui ekspresi wajah, nada bicara, bahkan zat kimia yang dilepaskan tubuh orang yang stres. Kamu 4 kali lebih mungkin ketularan stres dari orang yang kamu kenal, terutama keluarga.
Apakah stres orang tua bisa menular ke anak dewasa?
Ya. Riset 2024-2025 menunjukkan hormon stres (cortisol) orang tua dan remaja berkovariasi dalam kehidupan harian. Remaja menunjukkan respons stres fisik (cortisol, detak jantung, HRV) saat mengamati orang tua stres. Bahkan stres ibu lebih kuat memprediksi fungsi kognitif anak daripada stres anak sendiri.
Kenapa Gen Z Indonesia cemas soal uang padahal gaji cukup?
Kecemasan finansial Gen Z tidak selalu soal jumlah uang. Riset menunjukkan stres finansial lebih berpengaruh pada kesehatan mental dibanding perubahan pendapatan. Banyak Gen Z membawa money scripts, keyakinan bawah sadar tentang uang yang terbentuk sejak masa kecil dari melihat orang tua tegang soal keuangan. Kecemasan itu warisan emosional, bukan kondisi finansial saat ini.
Bagaimana cara memutus rantai secondhand stress dari orang tua?
Langkah pertama adalah sadar bahwa kecemasan itu ada dan sebagian bukan milikmu. Bukan dengan menyalahkan orang tua, tapi dengan mengenali pola pikir uang yang kamu warisi. Mulai perhatikan kapan kecemasan finansial muncul: apakah karena kondisi keuanganmu saat ini, atau karena suara orang tua yang masih terngiang soal uang yang susah.
Newsletter
Satu email per minggu untuk melihat uang, karier, bisnis, dan kehidupan dari sudut yang lebih jernih. Gratis, berhenti kapan saja.
TAM gratis untuk semua
Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.
Dukung TAMSumber & Metodologi
Data dalam artikel ini bersumber dari publikasi resmi dan laporan media terverifikasi. Pembaca dapat memeriksa sumber asli melalui tautan berikut.
- 1.
- 2.
- 3.
- 4.
- 5.
- 6.
- 7.
- 8.
- 9.
- 10.
- 11.
- 12.
- 13.
- 14.
- 15.
KTP Butuh Hari Libur: Birokrasi yang Paksa Kamu Cuti Kerja
57% Gen Z dan Milenial pilih jalur alternatif urus KTP. Bukan tidak tahu aturan, jalur resmi terlalu lama. Sistem yang dirancang untuk membuatmu menyerah.