Lewati ke konten utama
Situationship: Bukan Takut Komitmen, Gaji yang Tidak Pasti
Kehidupan8 menit baca

Situationship: Bukan Takut Komitmen, Gaji yang Tidak Pasti

63% Gen Z menunda pernikahan karena ekonomi. Situationship bukan ketakutan, tapi respons rasional terhadap gaji yang tidak pasti. Baca datanya.

Ditulis oleh Yovie Setiawan

Hook

Semua bilang Gen Z takut komitmen. Data bilang sebaliknya. IDN Research Institute pada 2025 menemukan 63% Gen Z Indonesia menunda pernikahan karena ketidakstabilan ekonomi. Bukan karena takut atau tidak mau, tapi karena hitung-hitungan. Komitmen dalam hubungan modern adalah financial entanglement. Mengikat diri dengan seseorang berarti mengikat dua ketidakpastian finansial menjadi satu. Kalau gaji kamu Rp3-4 juta dan biaya hidup Jakarta Rp7 juta, menjanjikan seseorang "selamanya" bukan berani. Itu tidak jujur.

Konteks

Situationship menjadi fenomena global. Riset aplikasi kencan Hinge pada 2024 menemukan biaya kencan rata-rata di Amerika Serikat mencapai $58,54 per kali, atau sekitar Rp888 ribu. Dalam sebulan, biaya kencan bisa mencapai $150 atau Rp2,4 juta. Setengah dari Gen Z dan milenial yang disurvei Hinge memilih berhenti berkencan sama sekali. Mereka lebih simpan uang untuk sewa, perawatan kesehatan, atau investasi.

Di Indonesia, pola serupa terjadi. Skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM yang dipublikasikan 2026 menemukan bahwa Hubungan Tanpa Status (HTS) bukan sekadar hubungan tanpa komitmen. Komitmen romantis bergeser menjadi sesuatu yang fleksibel, berbasis kesepakatan subjektif antara dua orang. Penelitian yang melibatkan 9 pelaku HTS ini menemukan bahwa ketiadaan status formal tidak berarti ketiadaan kedekatan emosional. HTS muncul sebagai tanda pergeseran standar komitmen di kalangan Gen Z urban.

Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2026 melibatkan lebih dari 22.500 responden di 44 negara. Hasilnya: 55% Gen Z menunda keputusan besar dalam hidup, termasuk pernikahan, memiliki anak, atau memulai bisnis, karena kondisi keuangan. Biaya hidup menjadi kekhawatiran terbesar selama lima tahun berturut-turut, melampaui isu pengangguran, keamanan, dan politik. Ini konteks yang sudah dibahas di Generasi Nanti Dulu: Bukan Malas, Gaji yang Tidak Mau Tumbuh. Gen Z tidak menunda karena malas. Mereka menunda karena sistem tidak memberi kepastian untuk menjanjikan besok.

Komitmen sebagai Financial Entanglement

Komitmen dalam hubungan modern tidak lagi sekadar soal cinta. Komitmen adalah menggabungkan dua ketidakpastian finansial menjadi satu. Pusat Kajian Demografi Universitas Indonesia pada 2025 menemukan 58% responden berusia 25-30 tahun masih berpenghasilan di bawah Rp10 juta per bulan. 41% di antaranya masih tinggal bersama orang tua atau kontrak kos karena belum mampu membeli atau menyicil rumah.

Berdasarkan IDN Research Institute (2025), 63% Gen Z Indonesia menunda pernikahan karena ketidakstabilan ekonomi. Deloitte Global Gen Z Survey 2026 menemukan 55% Gen Z menunda keputusan besar termasuk pernikahan karena kondisi keuangan. Biaya hidup menjadi kekhawatiran terbesar selama lima tahun berturut-turut. Kalau kamu tidak bisa menjanjikan diri sendiri kestabilan finansial bulan depan, bagaimana kamu menjanjikan seseorang "selamanya"?

Ini bukan hipotesis. Ini matematika. Gaji Gen Z per bulan rata-rata Rp1,68 juta sampai Rp2,28 juta menurut BPS 2024. Biaya hidup minimum di Jakarta untuk single person diperkirakan Rp7 juta per bulan. Defisitnya: Rp4-5 juta setiap bulan. Kamu belum mulai menabung, belum mulai investasi, belum mulai menjanjikan apa pun ke siapa pun. Kamu sudah minus sebelum tanggal 1.

Situationship sebagai Respons Rasional

KBR.id melaporkan wawancara dengan Coach Lex dePraxis, relationship coach yang menangani klien Gen Z. Katanya: "Mereka mau (menikah), tapi nanti. Mereka menunda karena merasa belum siap, merasa tertekan. Tekanannya bisa ekonomi, bisa tuntutan peran, bisa trauma melihat pernikahan orang tuanya sendiri."

Coach Lex juga menjelaskan pergeseran ekspektasi terhadap pernikahan. "Dulu orang menikah itu motifnya ekonomi, lalu keluarga, happy atau tidak, itu nomor sekian. Sekarang, pernikahan dituntut untuk memenuhi kebutuhan psikologis paling tinggi: fulfillment, kebahagiaan, self-actualization." Job desk pernikahan bertambah: harus bisa deep talk, emotionally available, saling validasi, bertumbuh bersama. Gen Z bertanya: "Gue sanggup nggak ya?"

Situationship muncul bukan karena Gen Z tidak menghargai komitmen. Sebaliknya, mereka menghargai komitmen terlalu tinggi untuk memberikannya tanpa kepastian finansial. Skripsi UGM menemukan bahwa HTS bukan hubungan tanpa komitmen, tapi komitmen yang fleksibel. Komitmen yang disesuaikan dengan kapasitas. Ini selaras dengan temuan di 60% Gen Z Cemas Masa Depan: Bukan Mental Lemah, Sistem yang Tidak Pasti. Kecemasan finansial bukan gejala mental. Itu respons rasional terhadap sistem yang tidak menjanjikan stabilitas.

Biaya Kencan: Cinta Punya Harga

Biaya kencan yang sudah disebut sebelumnya dari data Hinge 2024 punya konsekuensi nyata. Setengah dari Gen Z dan milenial yang disurvei Hinge memilih berhenti berkencan sama sekali dan menyimpan uang untuk kebutuhan dasar: sewa, perawatan kesehatan, investasi.

Di Indonesia, biaya kencan mungkin lebih murah, tapi rasio terhadap pendapatan sama atau lebih buruk. Estimasi sederhana: nonton bioskop berdua Rp200 ribu, makan di restoran menengah Rp300-500 ribu, transportasi Rp50-100 ribu. Sekali kencan bisa habis Rp550-800 ribu. Dengan gaji Rp3 juta menurut BPS 2024, itu 18-27% dari pendapatan bulanan untuk satu kali kencan. Frekuensi 4x sebulan: 72-108% dari gaji. Kamu tidak butuh ekonom untuk tahu ini tidak berkelanjutan.

Alasan Gen Z Menunda Komitmen

Persentase Gen Z yang menyebutkan alasan ini

Sumber: IDN Research Institute (2025) - Indonesia Millennial and Gen Z Report

Paradox of Choice di Dating Apps

Populix pada 2026 mensurvei 1.165 responden Indonesia dan menemukan 63% anak muda Indonesia menggunakan aplikasi kencan online. Tinder digunakan oleh 38% responden, Tantan 33%, dan Bumble 17%. Aplikasi kencan menciptakan ilusi pilihan tak terbatas. Setiap swipe membuka kemungkinan baru. Setiap match memberi sensasi bahwa "opsi lain" selalu ada di luar sana.

Konsekuensinya: komitmen terasa seperti opportunity cost yang terlalu tinggi. Kalau kamu mengikat diri dengan satu orang, kamu kehilangan akses ke ribuan "opsi lain" yang dijanjikan algoritma. Ini bukan ketakutan irasional. Ini rasionalitas di sistem yang didesain untuk membuat kamu terus swipe. Seperti yang dibahas di Back to Basic Dating: Gen Z Capai Situationship, Bukan Konservatif, Gen Z tidak tiba-tiba konservatif. Mereka capai dengan situationship, ghosting, dan hubungan ambigu yang menguras energi.

Insight

Situationship bukan degradation of values. Itu adaptation to reality. Kalau kamu tidak bisa menjanjikan besok, bagaimana bisa menjanjikan seseorang selamanya? Gen Z tidak takut komitmen, mereka takut pada kondisi yang membuat komitmen menjadi beban. Yang ditunda bukan cinta, tapi konsekuensi finansial dari cinta.

Menurut gue, menyalahkan Gen Z untuk situationship sama saja dengan menyalahkan korban banjir karena basah.

Gue perhatikan di teman-teman gue. Yang lahir 1997-2000, semuanya punya pola yang sama. Mereka tidak menolak hubungan. Mereka menjalani hubungan tanpa label. Bukan karena tidak serius, tapi karena serius terlalu berat. "Kita ini apa?" adalah pertanyaan yang dihindari bukan karena tidak peduli jawabannya. Tapi karena jawabannya melibatkan angka yang tidak bisa mereka bayar.

Conclusion

Jadi, kalau besok gaji kamu dipotong, kontrak kerja tidak diperpanjang, dan biaya hidup naik lagi, apakah kamu masih bisa menjanjikan seseorang "selamanya"? Kalau jawabannya tidak yakin, mungkin situationship bukan ketakutanmu. Mungkin itu satu-satunya hal yang jujur bisa kamu tawarkan.

Komitmen butuh kepastian. Ekonomi ini tidak memberi kepastian.


Selanjutnya di Hubungan Era Tidak Pasti: Kalau situationship adalah respons rasional terhadap ekonomi tidak pasti, apa yang terjadi ketika hubungan yang sudah berjalan pun tidak bisa dipertahankan? Ghosting bukan tentang tidak bisa komunikasi. Tapi tentang tidak ada energi yang tersisa untuk maintain. Lanjut ke Part 2

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Baca juga