
Ghosting: Bukan Tidak Bisa Komunikasi, Tidak Ada Energi untuk Maintain
“Ghosting bukan kelemahan komunikasi. Penelitian USU: korban ghosting alami psychological distress. Pelaku ghosting lakukan sebagai perlindungan diri.”
Sebelumnya di Hubungan Era Tidak Pasti: Part 1 membahas bagaimana situationship bukan ketakutan komitmen, tapi respons rasional terhadap ekonomi tidak pasti yang membuat komitmen jadi beban finansial. Baca: Part 1
Hook
Penelitian Universitas Sumatera Utara pada 2025 terhadap 160 dewasa awal berusia 18-25 tahun menemukan korban ghosting mengalami psychological distress pada skala sedang. Tapi yang lebih mengejutkan: penelitian Universitas Multimedia Nusantara pada 2025 menemukan pelaku ghosting melakukannya bukan untuk menyakiti. Mereka melakukannya sebagai mekanisme perlindungan diri. Ghosting bukan epidemi kekejaman. Ini gejala kelelahan emosional generasi yang bandwidth-nya sudah habis dipakai untuk survive.
Konteks
Ghosting di era dating apps bukan fenomena langka. Populix pada 2026 menemukan 63% anak muda Indonesia menggunakan aplikasi kencan online, dengan Tinder (38%) dan Tantan (33%) sebagai platform terpopuler. Dalam ekosistem di mana match baru tersedia dalam satu swipe, hubungan terbentuk cepat dan berakhir lebih cepat lagi. Ghosting adalah cara mengakhiri hubungan dengan memutus seluruh komunikasi secara tiba-tiba tanpa penjelasan. Istilah ini diadopsi dari dunia HR, di mana perusahaan menghentikan rekrutmen tanpa kabar. Sekarang, itu cara Gen Z mengakhiri hubungan.
Konteksnya tidak bisa dilepaskan dari ekonomi. Setelah kerja 8-10 jam, gig economy, side hustle, dan commute yang menyita waktu, energi emosional yang tersisa untuk maintain hubungan sangat minim. Ini selaras dengan yang dibahas di Emotional Exhaustion: Bukan Sekadar Capek, Kamu Kosong. Gen Z tidak hanya lelah fisik. Mereka kosong emosional. Dan hubungan, sekecil apa pun, butuh energi emosional yang tidak mereka punya.
Ghosting juga diperparah oleh struktur dating apps yang menurunkan biaya keluar dari hubungan ke nol. Di dunia nyata, putus hubungan melibatkan pertemuan, penjelasan, mungkin pertengkaran. Di dating apps, keluar dari hubungan semudah delete chat, unmatch, atau sekadar berhenti membalas. Tidak ada konsekuensi sosial. Tidak ada akuntabilitas. Seperti yang sudah dibahas di Ghosting Bukan Tidak Bisa Komunikasi, Hubungan yang Dijual Terlalu Murah, sistem yang menjual hubungan terlalu murah tidak bisa menuntut orang untuk mengakhiri hubungan dengan mahal.
Psikologi Ghosting: Bukan Kejam, Tidak Tahu Caranya
LM Psikologi UGM pada Oktober 2025 mempublikasikan kajian tentang ghosting dari perspektif psikologi. Penelitian menemukan ghosting dikaitkan dengan avoidant attachment style dan destiny beliefs. Avoidant attachment adalah pola kelekatan di mana seseorang menghindari kedekatan emosional karena merasa tidak aman. Destiny beliefs adalah keyakinan bahwa pasangan harus "ditakdirkan" dan kalau tidak cocok, lebih baik pergi tanpa drama.
Studi yang dilakukan Navarro dan kolega pada 2020 terhadap 626 orang di Spanyol menemukan bahwa anak muda dan laki-laki lebih sering melakukan ghosting. Tiga alasan utama pelaku ghosting: menghindari pertengkaran, merasa tidak selevel dengan pasangan, dan ingin cepat move on tanpa beban emosional.
Penelitian Universitas Sumatera Utara (2025) terhadap 160 dewasa awal 18-25 tahun menemukan korban ghosting mengalami psychological distress pada skala sedang. Ghosting dikaitkan dengan avoidant attachment dan destiny beliefs menurut penelitian LM Psikologi UGM (2025). Ini bukan kejam, tapi ketidakmampuan untuk menghadiri konflik yang membutuhkan energi yang tidak dimiliki.
Ghosting sebagai Mekanisme Perlindungan Diri
Universitas Multimedia Nusantara pada 2025 meneliti pengalaman ghosting tiga perempuan Gen Z pengguna Bumble di Jakarta. Temuannya menantikan asumsi bahwa pelaku ghosting selalu antagonis. Ketiga informan melakukan ghosting bukan untuk menyakiti. Mereka melakukannya sebagai mekanisme perlindungan diri dari ketidaknyamanan emosional yang dirasakan dalam interaksi dengan match di aplikasi kencan.
Satu informan bercerita bahwa dia mengakhiri komunikasi karena merasa tertekan dengan ekspektasi yang tidak sesuai. Bukan karena tidak suka, tapi karena tidak punya energi untuk menegosiasikan ekspektasi itu. Ghosting menjadi cara mempertahankan kontrol terhadap ruang pribadi ketika ruang publik sudah terlalu melelahkan.
Ini respons adaptif. Dalam menghadapi dinamika relasi yang cepat dan tidak menentu di era digital, ghosting menjadi exit strategy dengan biaya terendah. Kalau konfrontasi butuh energi yang tidak kamu punya, dan dating apps membuat exit semudah unmatch, kenapa harus memilih jalan yang lebih melelahkan?
Bandwidth Emosional dan Ekonomi
Toxic productivity, hustle culture, dan gig economy menciptakan generasi yang energi emosionalnya habis untuk kerja. Seperti yang dibahas di Toxic Productivity: Istirahat Terasa Seperti Kejahatan, produktivitas yang dipaksa berlebihan menghasilkan kekosongan, bukan kepuasan.
Platform kencan memperparah dengan menurunkan biaya keluar dari hubungan ke nol. Swipe, match, chat, hilang. Kalau keluar dari hubungan tidak ada konsekuensi sosial, mengapa harus menghadapi konfrontasi yang melelahkan? Hubungan dijual terlalu murah oleh platform yang didesain untuk membuat kamu terus swipe, bukan untuk membuat kamu terus maintain.
Gue perhatikan pola ini di teman-teman gue. Yang kerja 10 jam sehari, commute 2 jam, sampai kos cuma bisa rebahan dan scroll. Mereka tidak punya energi untuk balas chat pacar, apalagi untuk negosiasi konflik. Ghosting bukan pilihan sadar. Itu default ketika energi emosional sudah habis sebelum hubungan dimulai.
Dampak Korban: Luka Tanpa Nama
Korban ghosting mengalami apa yang disebut ambiguous loss. Kehilangan yang tidak jelas. Tidak ada pernyataan resmi bahwa hubungan berakhir. Tidak ada closure. Hanya keheningan yang tiba-tiba. Penelitian USU (2025) menemukan korban ghosting mengalami psychological distress pada skala sedang, dengan gejala termasuk kecemasan, rasa bersalah, dan penurunan harga diri.
Studi neurosains menunjukkan bahwa sakit emosional akibat penolakan sosial mengaktifkan area otak yang sama dengan sakit fisik: korteks cingulate anterior dan insula. Otak memproses ghosting seperti luka fisik. Tapi bedanya, luka fisik punya protokol penyembuhan. Ghosting tidak. Tidak ada ritual duka, tidak ada teman yang datang dengan makanan, tidak ada simpati. Luka yang tidak punya nama tidak bisa disembuhkan.
Insight
Ghosting bukan failure of character. Itu failure of bandwidth. Generasi yang energi emosionalnya habis untuk survive ekonomi tidak punya sisa untuk closure yang sopan. Dating apps memperparah dengan menurunkan cost of exit ke nol. Kalau keluar dari hubungan tidak ada konsekuensi sosial, mengapa harus menghadapi konfrontasi yang melelahkan? Ghosting adalah rasionalitas emosional di sistem yang tidak menuntut akuntabilitas.
Ini bukan pembelaan untuk ghosting, karena korban tetap menderita dan psychological distress tetap nyata. Tapi kalau kita hanya menyalahkan pelaku tanpa melihat sistem yang membentuk perilaku mereka, kita tidak akan pernah memecahkan masalahnya. Ghosting bukan masalah komunikasi. Itu masalah kapasitas.
Menurut gue, ghosting adalah gejala, bukan penyakit. Penyakitnya adalah ekonomi yang menguras emosi sampai tidak ada sisa.
Conclusion
Kita diajari bahwa ghosting itu kejam. Tapi kalau sistem ekonomi menguras semua energimu untuk kerja, dan dating apps membuat keluar dari hubungan segratis swipe, mungkin yang harus ditanyakan bukan kenapa Gen Z ghosting. Tapi kenapa kita masih mengharapkan closure dari generasi yang tidak punya energi untuk memberikannya.
Ghosting bukan kejam. Ghosting adalah kelelahan.
Selanjutnya di Hubungan Era Tidak Pasti: Kalau hubungan romansa saja tidak bisa dipertahankan, apa yang terjadi pada pertemanan? Friendship breakup bukan hanya tentang drama. Pertemanan jadi luxury yang tidak terjangkau untuk generasi yang bandwidth emosionalnya habis. Lanjut ke Part 3
Newsletter
Satu email per minggu untuk melihat uang, karier, bisnis, dan kehidupan dari sudut yang lebih jernih. Gratis, berhenti kapan saja.
TAM gratis untuk semua
Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.
Dukung TAMSumber & Metodologi
Data dalam artikel ini bersumber dari publikasi resmi dan laporan media terverifikasi. Pembaca dapat memeriksa sumber asli melalui tautan berikut.
- 1.
- 2.
- 3.
- 4.
- 5.
KTP Butuh Hari Libur: Birokrasi yang Paksa Kamu Cuti Kerja
57% Gen Z dan Milenial pilih jalur alternatif urus KTP. Bukan tidak tahu aturan, jalur resmi terlalu lama. Sistem yang dirancang untuk membuatmu menyerah.