Lewati ke konten utama
Merdeka dari Apa? Gen Z 2026 Tidak Merasakannya
Kehidupan8 menit baca

Merdeka dari Apa? Gen Z 2026 Tidak Merasakannya

20 juta Gen Z belum punya tabungan, 41 persen ingin kabur. Saat Indonesia rayakan 81 tahun merdeka, Gen Z bertanya: merdeka dari apa?

Ditulis oleh Yovie Setiawan

17 Agustus 2026, Indonesia genap 81 tahun merdeka. Upacara bendera, lomba panjat pinang, lagu Indonesia Raya berkumandang. Tapi 20 juta Gen Z belum punya tabungan di bank menurut Bank Indonesia. 41 persen Gen Z ingin pergi ke luar negeri menurut survei YouGov Februari 2025. Dan 7.24 juta orang menganggur, hampir setengahnya usia 15 sampai 24 tahun menurut BPS Februari 2026. Merdeka dari apa?

Pertanyaan ini bukan tidak syukur. Ini pertanyaan yang sudah diajukan sejak 1945.

Merdeka atau Ilusi?

Tan Malaka dalam risalah "Merdeka 100%" tahun 1945 menjelaskan bahwa kemerdekaan harus mencakup kedaulatan penuh atas politik dan ekonomi. Bukan hanya lepas dari penjajahan fisik, tapi mandiri menguasai kekayaan alam dan mengelola negeri tanpa intervensi asing. Merdeka setengah-setengah, menurutnya, omong kosong. Negara yang merdeka tapi tidak berdaulat atas ekonominya sendiri, belum merdeka.

Ide ini nyata di 2026. Merdeka bukan cuma soal bendera merah putih dikibarkan setiap 17 Agustus. Merdeka adalah ketika kita bisa tidur nyenyak tanpa takut di-PHK besok, tanpa takut tidak bisa bayar cicilan, tanpa takut tidak punya tabungan untuk bulan depan. Tan Malaka menyebut ini kedaulatan ekonomi. 81 tahun setelah proklamasi, pertanyaannya: apakah kedaulatan itu sudah kita rasakan?

Gen Z Indonesia berjumlah 71.5 juta jiwa, 26.5 persen dari total 270.2 juta penduduk menurut Kompas.id mengutip data BPS. Mereka generasi terbesar yang merayakan kemerdekaan setiap tahun. Tapi riset IMGR 2027 dari IDN Research Institute menunjukkan hanya 8.1 persen Gen Z yang menganggap ikut upacara sebagai bentuk cinta tanah air. Sebaliknya, 59.3 persen memilih menyuarakan kritik terhadap kebijakan tidak adil sebagai wujud nasionalisme, menurut riset yang sama. Gen Z tidak kehilangan nasionalisme. Mereka mendefinisikan ulang, karena narasi lama terasa kosong di hadapan realitas ekonomi yang mereka hadapi setiap hari.

Tapi apa arti merdeka 100 persen menurut Tan Malaka kalau secara finansial, Gen Z belum punya kedaulatan atas uang sendiri?

Tabungan Kosong, Utang Menumpuk

Bank Indonesia mencatat sekitar 20 juta Gen Z belum memiliki tabungan di bank per November 2025. Bukan karena mereka tidak tahu harus nabung. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025 dari OJK dan BPS mencatat indeks literasi keuangan nasional sebesar 66.46 persen, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 80.51 persen. Gap antara akses dan pemahaman melebar dari 9.6 poin menjadi 14 poin. Artinya, akses terhadap produk keuangan tumbuh jauh lebih cepat dibanding kemampuan menggunakannya secara bijak.

Gap Literasi vs Inklusi Keuangan Nasional

Selisih melebar dari 9.6 ke 14 poin

Sumber: OJK SNLIK 2024-2025

Sementara tabungan kosong, utang menumpuk. OJK mencatat total utang BNPL nasional mencapai Rp28.3 triliun dengan 30.81 juta pengguna per Maret 2026. Menurut OJK, kelompok usia 19 sampai 34 tahun menyumbang 48.65 persen dari kredit macet pinjaman online. Gen Z menyumbang hampir 40 persen dari total pengguna BNPL menurut data OJK, dengan rasio kredit macet paylater sekitar 4 persen, lebih tinggi dari kredit perbankan umum. Anak muda dapat akses kredit lebih cepat daripada edukasi cara ngelolanya.

Data BPS DKI Jakarta 2025 menunjukkan rerata pengeluaran Gen Z di Jakarta mencapai Rp11.97 juta per bulan, dengan porsi terbesar untuk kebutuhan nonmakanan sebesar Rp7.14 juta. BPS DKI Jakarta juga mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka kelompok usia 15 sampai 29 tahun di Jakarta mencapai 13.65 persen, jauh lebih tinggi dari kelompok usia 30 sampai 59 tahun yang hanya 3.25 persen. Pengeluaran tinggi, pendapatan tidak pasti, dan utang sebagai jembatan. Itu bukan kedaulatan finansial. Itu ketergantungan.

Saya perhatikan di lingkaran teman saya, yang punya tabungan rutin itu mereka yang masih tinggal dengan orang tua. Yang sudah kos, yang sudah sewa sendiri, tabungan jadi mewah. Gaji masuk tanggal 25, habis tanggal 5. Sisanya? Cicilan paylater yang dipakai untuk jembatan antar gaji. Bukan gaya hidup, tapi cara bertahan hidup. Seperti yang kami bahas di girl math bukan joke, rasionalisasi belanja saat nabung tak masuk akal, rasionalisasi pengeluaran bukan humor. Itu coping mechanism saat sistem finansial tidak memberi ruang untuk menabung.

Tapi ketidakmerdekaan Gen Z bukan cuma soal uang. Soal pekerjaan juga.

Kerja Dua Shift Bukan Kemerdekaan

BPS Februari 2026 mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka nasional sebesar 4.68 persen. Tapi untuk kelompok usia 15 sampai 24 tahun, BPS mencatat TPT mencapai 16.36 persen, jauh di atas rerata nasional dan tertinggi di antara semua kelompok umur. Dari 7.24 juta penganggur total menurut BPS, hampir setengahnya adalah anak muda. Beban pengangguran di Indonesia paling besar ditanggung generasi yang baru masuk pasar kerja.

TPT per Kelompok Usia, Februari 2026

Usia 15-24 tahun tertinggi, 3.5x rata-rata nasional

Sumber: BPS Sakernas Februari 2026

Lebih parah, BPS mencatat 20.31 persen Gen Z usia 15 sampai 24 tahun berstatus NEET pada 2024. Not in Employment, Education, or Training. Tidak kerja, tidak sekolah, tidak pelatihan. Satu dari lima anak muda hilang dari sistem. Mereka tidak muncul di statistik pengangguran resmi karena sudah berhenti mencari kerja. Tapi mereka ada, dan membuktikan sistem tidak menyerap mereka. Saya kenal beberapa dari mereka. Lulus SMK 2023, kirim Lamaran ke 50 tempat, ditolak semua. Sekarang bantu orang tua di warung, tidak tercatat di mana pun.

Yang berhasil kerja pun tidak otomatis merdeka. Data BPS menunjukkan 44.3 persen pekerja muda usia 16 sampai 30 tahun berada di sektor informal pada 2023, naik dari 39.6 persen pada 2019. Sektor informal berarti gaji lebih rendah, tanpa BPJS, tanpa jaminan perlindungan sosial. Pekerjaan ada, tapi bukan jenis pekerjaan yang memberi kedaulatan.

BPS mencatat lulusan SMK punya TPT 8 persen, tertinggi di antara semua jenjang pendidikan, dan S1 sebesar 6.23 persen. Pendidikan tinggi tidak menjamin kerja, dan kerja tidak menjamin merdeka. Banyak Gen Z yang akhirnya kerja dua shift, dua full-time, bukan karena ambisi tapi karena satu gaji tidak cukup. Seperti yang kami bahas di overemployment: kerja 2 full-time bukan ambisi, fenomena ini bukan ekspresi etos kerja. Itu ekspresi keputusasaan.

Dan tanpa dana darurat, satu kali PHK bisa langsung jatuh. Seperti yang kami tulis di dana darurat 6x gaji: saran finansial orang yang sudah makan, saran tabungan 6x pengeluaran bulanan terdengar seperti lelucon untuk orang yang gajinya habis di awal bulan. Merdeka dari ketidakpastian? Belum, justru ketidakpastian itulah yang paling konstan.

Kalau kerja saja tidak menjamin merdeka, wajar kalau banyak yang mikir: kenapa tidak kabur saja?

Kabur Aja Dulu: Bukan Tidak Nasionalis, Tidak Diberi Pilihan

Survei YouGov Februari 2025 menunjukkan 41 persen Gen Z mempertimbangkan pindah ke luar negeri. Angka itu lebih tinggi dibanding milenial yang 32 persen, Gen X yang 26 persen, dan Baby Boomers yang 12 persen, menurut YouGov. Gen Z juga punya tingkat pesimisme tertinggi terhadap masa depan Indonesia, sebesar 37 persen dalam survei yang sama.

Survei Populix Maret 2025 melaporkan 82 persen responden ingin bekerja di luar negeri, dengan alasan utama penghasilan yang lebih baik. Tagar #KaburAjaDulu muncul di sekitar 200.000 postingan TikTok. Indonesia menempati peringkat 90 dari 179 negara di indikator human flight and brain drain yang dirilis Fund for Peace, salah satu yang terburuk di Asia Tenggara setelah Laos, Myanmar, dan Kamboja.

Studi dari Universitas Gadjah Mada yang dipublikasikan di jurnal Populasi menemukan bahwa resiliensi nasional yang rendah, termasuk rendahnya nasionalisme dan kepercayaan terhadap institusi publik, cenderung meningkatkan niat migrasi. Ini bukan soal anak muda tidak cinta tanah air. Ini soal anak muda yang merasa tanah air tidak memberi mereka pilihan.

IMGR 2027 menunjukkan 62.6 persen Gen Z bersikap skeptis ketika sentimen nasionalisme digunakan untuk kepentingan politik. Mereka bisa membedakan antara nasionalisme asli dan nasionalisme yang dipakai untuk citra. Ketika negara rayakan merdeka tapi 20 juta Gen Z belum punya tabungan menurut Bank Indonesia, 41 persen ingin pergi menurut YouGov, dan 16.36 persen menganggur menurut BPS, skeptisisme itu bukan sikap anti-nasionalis. Itu respons rasional terhadap sistem yang belum menepati janjinya. Seperti yang kami bahas di quarter-life crisis bukan penyakit, sistemnya yang rusak, kalau satu generasi penuh mengalami krisis yang sama di usia yang sama, bukan generasinya yang rusak. Sistemnya yang rusak.

Jadi pertanyaannya: apa yang dirayakan dan apa yang dirasakan?

Realita di Balik Upacara

Setiap 17 Agustus, Indonesia merayakan merdeka dengan upacara, lomba, dan bendera. Tapi bagi Gen Z, yang dirayakan dan yang dirasakan bukan hal yang sama. Yang dirayakan: kemerdekaan politik, lepas dari penjajah 81 tahun lalu. Yang dirasakan: ketergantungan ekonomi, pada paylater, pada kerja dua shift, pada ketidakpastian.

Tan Malaka bilang merdeka harus 100 persen, termasuk kedaulatan ekonomi. 81 tahun setelah proklamasi, 20 juta Gen Z belum punya tabungan menurut Bank Indonesia, 41 persen ingin pergi menurut YouGov, 16.36 persen menganggur menurut BPS, dan 20.31 persen berstatus NEET menurut BPS. Merdeka penuh belum tercapai. Dan Gen Z tahu itu. Mereka tidak butuh ceramah nasionalisme, tapi sistem yang memberi kedaulatan atas hidup mereka.

Bukan Gen Z yang tidak bersyukur. Mereka hanya jujur bahwa merdeka yang tidak dirasakan bukan merdeka 100 persen menurut definisi Tan Malaka. 81 tahun setelah proklamasi, Tan Malaka masih menunggu janjinya ditepati.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa arti merdeka 100 persen menurut Tan Malaka?

Tan Malaka menjelaskan bahwa kemerdekaan harus mencakup kedaulatan penuh atas politik dan ekonomi. Intinya, negara yang merdeka tapi tidak berdaulat atas ekonominya sendiri belum merdeka.

Berapa persen Gen Z Indonesia yang belum punya tabungan?

Bank Indonesia mencatat sekitar 20 juta Gen Z belum memiliki tabungan di bank per November 2025. Sementara OJK melaporkan 48.65 persen kredit macet pinjaman online berasal dari kelompok usia 19 sampai 34 tahun per Maret 2026.

Mengapa Gen Z ingin pindah ke luar negeri?

Survei YouGov Februari 2025 menunjukkan 41 persen Gen Z mempertimbangkan pindah ke luar negeri, dengan 37 persen pesimis terhadap masa depan Indonesia. Alasan utamanya: penghasilan lebih baik, peluang karier, dan kualitas hidup yang tidak tersedia di dalam negeri.

Apakah Gen Z tidak nasionalis?

Riset IMGR 2027 dari IDN Research Institute menunjukkan 59.3 persen Gen Z menganggap kritik terhadap kebijakan tidak adil sebagai bentuk nasionalisme. Hanya 8.1 persen yang memilih upacara sebagai ekspresi cinta tanah air, menurut riset IMGR 2027. Gen Z tidak kehilangan nasionalisme, mereka mendefinisikan ulang.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Baca juga