Lewati ke konten utama
NEET Gen Z: 1 dari 5 Anak Muda Hilang
Karier8 menit baca

NEET Gen Z: 1 dari 5 Anak Muda Hilang

20,31% anak muda Indonesia berstatus NEET, tidak sekolah tidak kerja tidak pelatihan. Bukan malas, sistem yang tidak punya jalur untuk mereka.

Ditulis oleh Yovie Setiawan

Realita 20 Persen

BPS merilis data pada Desember 2024: 20,31% penduduk usia 15 hingga 24 tahun di Indonesia berstatus NEET. Not in Employment, Education, or Training. Tidak bekerja, tidak sekolah, tidak mengikuti pelatihan. Satu dari lima anak muda. Dan hampir tidak ada yang membicarakan mereka.

Saat kamu berdebat tentang Gen Z yang "pilih-pilih kerja" atau "gampang nyerah", jutaan anak muda lain bahkan tidak sampai ke tahap melamar. Mereka tidak ada di data pengangguran, karena pengangguran terhitung hanya yang aktif mencari kerja. NEET lebih luas dari itu. Mereka hilang dari radar sama sekali.

Memetakan Populasi NEET

NEET adalah istilah yang diadopsi dari Britania Raya dan kini dipakai OECD serta ILO secara global. Definisinya: penduduk usia 15 hingga 24 tahun yang sedang tidak sekolah, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan. Berbeda dengan pengangguran, NEET mencakup mereka yang sudah berhenti mencari kerja, yang mengurus rumah tangga, yang putus sekolah, yang tidak punya akses ke pelatihan apa pun.

Berdasarkan data BPS Sakernas Agustus 2023, dari total populasi 44,47 juta anak muda usia 15-24 tahun di Indonesia, sekitar 9,9 juta masuk kategori NEET. Yang mengejutkan, data BPS menunjukkan lulusan SMA mendominasi dengan 3,57 juta orang, diikuti lulusan SMK 2,29 juta. Artinya, kelompok terbesar NEET bukan anak putus sekolah, tapi lulusan sekolah menengah yang tidak melanjutkan pendidikan tinggi dan tidak terserap pasar kerja.

Data yang Harus Dilihat

Tren Penurunan yang Tidak Boleh Dirayakan

Data BPS menunjukkan persentase NEET memang turun dari 24,77% pada 2015 menjadi 20,31% pada 2024. Tapi dalam konteks absolut, angka ini masih berarti jutaan anak muda hilang dari sistem setiap tahun. Penurunan 4,46 persen poin dalam satu dekade menurut data BPS bukan prestasi kalau setara dengan keberhasilan menarik keluar 2 dari 10 orang dari jurang, sementara 8 lainnya tetap jatuh.

Ketimpangan Regional yang Ekstrem

Data BPS 2024 per provinsi menunjukkan sebaran yang brutal. Papua Tengah mencatat 31,20%, Maluku 29,43%, Sulawesi Utara 28,33%. Sementara data BPS mencatat Bali hanya 7,26%, DI Yogyakarta 11,18%. Anak muda di Indonesia timur 3-4 kali lebih mungkin hilang dari sistem dibanding teman mereka di Bali atau Yogyakarta. Ketimpangan ini bukan kebetulan. Papua Tengah tidak punya akses yang sama dengan Bali. Infrastruktur pendidikan dan lapangan kerja terkonsentrasi di pulau Jawa, dan data BPS membuktikannya.

Perempuan Dua Kali Lebih Banyak

Data BPS 2023 mencatat dari 9,9 juta NEET, perempuan mencapai 5,73 juta orang (26,54%) dibanding laki-laki 4,17 juta (18,21%). Lebih dari setengah NEET adalah perempuan. Kompetitor media yang membahas data ini nyaris tidak menyentuh gender gap. Padahal ini salah satu temuan paling penting: perempuan muda Indonesia dua kali lebih mungkin hilang dari sistem pendidikan dan ketenagakerjaan.

Alasannya beragam, mulai dari kewajiban rumah tangga, budaya paternalistik di beberapa daerah, hingga akses pendidikan yang masih tidak setara. Tapi yang jelas, kalau kamu membicarakan NEET tanpa menyentuh dimensi gender, kamu hanya melihat setengah dari masalah.

Bukan Malas, Sistem yang Tidak Mau Mereka

Mismatch Pendidikan dan Industri

Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengidentifikasi dua faktor utama NEET. Pertama, daya saing pemuda Indonesia yang jauh lebih rendah dibanding pemuda ASEAN. Kedua, mismatch antara industri dan pendidikan. "Diploma yang dibangun di suatu wilayah kadang tidak sesuai dengan sektor unggulan daerah tersebut. Akhirnya tidak terserap oleh industri," katanya kepada Katadata.

Menaker Ida Fauziyah secara gamblang mengakui mismatch ini dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR: "Didapati miss-match. Jadi output dari pendidikan vokasi belum mampu berkesesuaian dengan kebutuhan pasar kerja."

Ini bukan masalah Gen Z yang salah pilih jurusan. Ini masalah sistem pendidikan yang mengeluarkan lulusan dengan keterampilan yang tidak dibutuhkan pasar. Lulusan SMK seharusnya paling siap kerja, justru punya TPT tertinggi dibanding jenjang lain menurut data BPS Sakernas Februari 2025. Sistem tetap pakai ijazah sebagai filter, tapi ijazah itu sendiri tidak menjamin keterampilan yang relevan.

Lulusan SMA Paling Rentan

Lulusan SMA mendominasi NEET dengan 3,57 juta orang menurut data BPS. Mereka tidak punya keterampilan vokasional seperti lulusan SMK, tapi juga tidak punya ijazah sarjana. Posisi mereka paling rapuh: terlalu berpendidikan untuk kerja kasar, tapi tidak cukup terampil untuk kerja formal.

Sementara itu, 300 lamaran ditolak masih jadi pengalaman normal bagi mereka yang aktif mencari kerja. Bayangkan mereka yang bahkan tidak sampai ke tahap melamar. Mereka tidak punya cerita tentang lamaran yang ditolak. Mereka punya cerita tentang tidak pernah mencoba, karena sistem tidak pernah menunjukkan bahwa ada tempat untuk mereka.

Gig Economy sebagai Katup Pengaman, Bukan Solusi

Analis Senior ISEAI Ronny P Sasmita menilai dominasi sektor gig bukan murni atas dasar pilihan bebas. "Ini bukan purely choice, tetapi juga constraint-driven choice. Ketika sektor formal tidak mampu menyerap angkatan kerja baru secara memadai, maka gig economy menjadi katup pengaman," ujarnya kepada CNN Indonesia.

Data Next Policy mencatat pekerja digital transportasi mencapai 2,41 juta orang pada 2024. Data ISEAI mencatat lebih dari 75% di antaranya berpenghasilan di bawah Rp3 juta per bulan. Pendapatan yang sangat sulit untuk menopang tabungan, KPR, pensiun, atau investasi pendidikan.

Gig economy tanpa jaring pengaman memang menyerap sebagian dari mereka yang hampir jatuh ke NEET. Tapi ini bukan kebebasan, ini ruang tunggu. "Jika tren ini tidak dikelola, maka kita berpotensi menghadapi generasi pekerja yang besar secara jumlah, tetapi rapuh secara ekonomi," tegas Ronny.

Kebijakan Masih Kosong

Pemerintah mengakui mismatch vokasi, tapi solusi yang diusulkan sebatas memberi label UMKM kepada pekerja platform. Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mendesak pemerintah agar tidak sekadar melabeli, tapi membangun rezim perlindungan kerja dan standar produktivitas yang konkret. "Agenda paling penting bukan mendorong lebih banyak anak muda masuk gig economy, tetapi memastikan pekerjaan gig menjadi jembatan menuju produktivitas dan kelas menengah, bukan ruang tunggu permanen di sektor informal," pungkasnya.

Sementara itu, 1 dari 5 anak muda tetap hilang. Tidak ada program khusus untuk menarik mereka kembali. Tidak ada insentif untuk industri yang mau merekrut lulusan non-vokasional. Dan tidak ada kebijakan yang menyentuh akar masalahnya.

Insight

NEET bukan kegagalan individu. Ini kegagalan sistem yang terlalu nyaman menyalahkan korban. Sistem pendidikan mengeluarkan lulusan yang tidak sesuai pasar, sistem kerja tidak menyerap, sistem sosial tidak menangkap yang jatuh. Lalu masyarakat menyalahkan Gen Z: "Malas," "Manja," "Tidak mau berjuang."

Saya punya adik kelas 2023 yang lulus SMA dan sampai sekarang belum ketemu jalur. Bukan karena malas. Dia sudah apply ke pulangan pabrik, ditolak karena tidak punya keterampilan vokasional. Daftar kerja serabutan, gajinya tidak cukup bayar kos. Sekolah lagi? Biayanya tidak terjangkau, dan pelatihan tidak tahu di mana. Dia tidak muncul di statistik pengangguran karena sudah berhenti melamar. Tapi dia ada di data BPS: salah satu dari 9,9 juta.

Menyebut NEET "malas" adalah cara termudah untuk tidak mengakui bahwa sistem tidak dirancang untuk mereka. Lebih mudah menyalahkan data BPS 9,9 juta individu daripada mengakui bahwa struktur pendidikan dan ketenagakerjaan Indonesia bermasalah struktural. Tapi data BPS tidak peduli dengan narasi nyaman. Data BPS menunjukkan 20,31% anak muda hilang dari radar, dan tidak ada indikasi angka ini akan turun besar tanpa perubahan sistemik.

Conclusion

Jadi bukan mereka yang hilang. Sistemnya yang tidak mau melihat mereka. Data BPS menunjukkan 20,31% anak muda Indonesia tidak sekolah, tidak kerja, tidak pelatihan. Dan selama kita masih menyebut mereka "malas", kita justru membuktikan bahwa kita juga tidak mau melihat.

FAQ

Apa itu NEET?

NEET adalah singkatan dari Not in Employment, Education, or Training. Istilah ini merujuk pada penduduk usia 15 hingga 24 tahun yang sedang tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan. Definisi ini diadopsi dari OECD dan ILO.

Berapa persen Gen Z Indonesia yang berstatus NEET?

BPS mencatat 20,31% penduduk usia 15 hingga 24 tahun Indonesia berstatus NEET pada 2024. BPS mencatat angka ini turun dari 24,77% pada 2015, tapi dalam jumlah absolut masih sekitar 9-10 juta orang.

Kenapa perempuan lebih banyak yang NEET?

Data BPS 2023 menunjukkan perempuan mencapai 5,73 juta (26,54%) dibanding laki-laki 4,17 juta (18,21%) dari total NEET. Faktor penyebab termasuk kewajiban rumah tangga, budaya paternalistik, dan akses pendidikan yang belum setara di beberapa daerah.

Apa beda NEET dengan pengangguran biasa?

Pengangguran terhitung hanya mereka yang aktif mencari kerja. NEET lebih luas: mencakup juga mereka yang sudah berhenti mencari kerja, yang mengurus rumah tangga, yang putus sekolah, dan yang tidak punya akses ke pelatihan apa pun.

Apa solusi untuk mengatasi NEET di Indonesia?

Ekonom menyarankan perbaikan mismatch pendidikan-industri, pembangunan rezim perlindungan kerja untuk sektor informal, dan memastikan gig economy menjadi jembatan menuju produktivitas, bukan ruang tunggu permanen. Selama sistem pendidikan tidak sinkron dengan pasar kerja, angka NEET sulit turun besar.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Baca juga