Lewati ke konten utama
Quiet Hiring: Bukan Kamu yang Kerja 2 Orang, Perusahaan yang Hemat di Atas Punggungmu
Karier•9 MENIT BACA

Quiet Hiring: Bukan Kamu yang Kerja 2 Orang, Perusahaan yang Hemat di Atas Punggungmu

“Kerjaan numpuk tapi gaji stagnan. Bukan kamu tidak bisa kerja, tapi perusahaan redistribute kerjaan tanpa tambah orang atau gaji. Efisiensi yang dibayar olehmu.”

Diterbitkan

Kerjaan numpuk, gaji stagnan. Rekan kerja keluar, posisinya tidak diisi. Tapi kerjaannya tetap ada, dan sekarang di atas meja kamu. Kamu mungkin pikir ini "kesempatan belajar" atau "tahap normal karier". Tapi ada nama untuk fenomena ini, dan namanya bukan ambisi. Namanya quiet hiring.

Konsep yang Mengubah Posisimu Diam-Diam

Kamu mungkin sudah dengar quiet quitting, fenomena karyawan yang berhenti peduli dan kerja sesuai jobdesk saja. Kamu mungkin juga tahu quiet firing, praktik perusahaan yang sengaja bikin kamu tidak nyaman sampai resign sendiri. Tapi ada satu lagi yang jarang dibahas: quiet hiring. Perusahaan menambah kerjaan tanpa menambah orang, tanpa menambah gaji, tanpa pengumuman formal.

Istilah ini pertama dipopulerkan Gartner pada 2023 sebagai salah satu dari sembilan prediksi workplace teratas. Emily Rose McRae, Senior Director of Research di Gartner, mendefinisikannya sebagai praktik organisasi mendapatkan skill baru tanpa merekrut karyawan full-time baru. Di versi idealnya, quiet hiring dilakukan dengan kompensasi yang sesuai dan transparansi. Di versi realita 2026, kompensasi itu sering hilang. Yang tersisa hanya kerjaan tambahan di atas meja kamu.

Definisi dan Bedanya dengan Promosi

Gartner mendefinisikan quiet hiring sebagai praktik organisasi mengakuisisi skill baru tanpa merekrut karyawan full-time baru. Tiga bentuk umumnya: reassign karyawan internal ke peran baru, berikan stretch assignment atau tanggung jawab tambahan, atau kontrak pekerja sementara untuk tugas spesifik.

Di versi yang baik, ini masuk akal. Perusahaan butuh skill tertentu untuk proyek mendesak, karyawan internal dapat kesempatan belajar, ada kompensasi yang jelas, dan batas waktu yang transparan. Gartner secara eksplisit menyebutkan "in both cases with commensurate compensation" dalam definisinya. Artinya, kalau kerjaan bertambah, gaji juga bertambah.

Tapi praktik di lapangan cerita lain. Riset Sharan Initiatives 2026 menemukan 78 persen perusahaan sudah pakai strategi quiet hiring. Dari angka itu, 63 persen karyawan melaporkan tanggung jawab mereka bertambah tanpa kenaikan gaji. Rata-rata tanggung jawab per karyawan naik dari 1,2 jadi 2,4 dalam dua tahun. Yang merasa dibayar secara adil turun dari 61 persen ke 39 persen dalam riset Sharan Initiatives.

Collins Dictionary mendefinisikannya dengan lebih blak-blakan: praktik memberikan pekerjaan tambahan kepada karyawan yang sudah ada daripada merekrut staf baru. Tidak ada kata "kompensasi" di definisi Collins. Karena di realita, kompensasi memang tidak ada.

Ini bukan overemployment di mana kamu sengaja kerja dua full-time untuk menambal gaji yang tidak cukup. Quiet hiring lebih halus. Kamu tidak memilih kerja dua orang. Perusahaan yang menempatkanmu di posisi itu, tanpa bertanya.

Data Indonesia: Kerja Lebih Lama, Dibayar Lebih Rendah

Jutaan Pekerja Indonesia Kerja di Atas Jam Wajar

Data BPS Agustus 2025 yang dilansir Katadata menunjukkan 25,5 persen atau 37,3 juta pekerja Indonesia bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Padahal menurut Pasal 77 UU Cipta Kerja, jam kerja mingguan maksimal 40 jam untuk 5 hari kerja atau 42 jam untuk 6 hari kerja. Artinya, 37,3 juta orang bekerja jauh di atas batas wajar menurut perhitungan BPS.

Yang lebih mengejutkan: data BPS 2024 menunjukkan pekerja dengan jam kerja di atas 44 jam justru mendapat rata-rata upah lebih rendah, yaitu Rp3,3 juta per bulan. Bandingkan dengan pekerja yang jam kerjanya 35-44 jam menurut BPS, yang dapat rata-rata Rp3,89 juta per bulan. Kerja lebih lama tidak berarti dibayar lebih banyak. Justru sebaliknya.

Pola ini konsisten dalam 10 tahun terakhir berdasarkan data BPS. Proporsi pekerja dengan jam kerja di atas 44 jam selalu di atas 40 persen berdasarkan data BPS, hanya turun saat pandemi 2020-2021. Quiet hiring tidak baru, baru namanya yang populer.

Gen Z Indonesia: Workload 77,5 Persen, Burnout 70,1 Persen

Riset yang dipublikasikan di Journal of Economics, Business and Applied Vocational Education (JEBAV) 2024 mengukur workload, burnout, dan work stress pada 210 karyawan Gen Z di Indonesia. Hasilnya: rata-rata workload 77,5 persen menurut JEBAV, masuk kategori tinggi. Burnout 70,1 persen dan work stress 68,8 persen dalam riset yang sama, keduanya juga tinggi.

Dimensi tertinggi dalam workload adalah cognitive demands, yaitu 83,6 persen dalam riset tersebut. Artinya, Gen Z Indonesia paling merasa beban kerja mereka menuntut pemrosesan informasi yang kompleks, pengambilan keputusan yang akurat, dan konsentrasi tinggi yang berkelanjutan. Ini konsisten dengan pola quiet hiring: kerjaan orang lain ditumpuk ke kamu, bukan kerjaan fisik tapi kerjaan kognitif yang menguras.

Studi ini juga membuktikan bahwa workload berpengaruh positif dan terbukti terhadap burnout. Artinya, semakin tinggi beban kerja, semakin tinggi burnout. Bukan opini, itu matematika.

Efisiensi yang Dibayar olehmu

63 Persen Karyawan Alami Expanded Duties Tanpa Pay Increase

Data Sharan Initiatives 2026 melengkapi gambar ini. Dari karyawan yang mengalami quiet hiring, 63 persen melaporkan tanggung jawab mereka bertambah tanpa kenaikan gaji. 58 persen mengaku mengerjakan pekerjaan di atas level jabatan atau gaji mereka berdasarkan data Sharan Initiatives. Rata-rata tanggung jawab tambahan per karyawan naik dari 1,2 jadi 2,4 dalam dua tahun. Pembagian kerja dua orang ke satu orang, tanpa kompensasi.

Yang lebih mengkhawatirkan: burnout yang diatribusikan ke role expansion naik dari 28 persen di 2024 jadi 47 persen di 2026 menurut data Sharan Initiatives. Karyawan yang merasa dibayar secara adil turun dari 61 persen ke 39 persen dalam periode yang sama berdasarkan riset Sharan Initiatives. Ini bukan sedikit. Ini mayoritas.

Engagement Drop 18-23 Points

Fizzty 2026 melaporkan bahwa karyawan yang menyerap tambahan scope tanpa negosiasi mengalami penurunan engagement score 18-23 poin di bawah rata-rata. Artinya, quiet hiring tanpa kompensasi bikin lelah sekaligus bikin tidak peduli. Dan karyawan yang tidak peduli adalah bibit quiet quitting.

Siklusnya berputar: perusahaan tambah kerjaan tanpa tambah gaji, karyawan burnout dan berhenti peduli, posisi kosong tidak diisi, kerjaan ditumpuk ke karyawan lain. Quiet hiring menciptakan quiet quitting, yang menciptakan lebih banyak quiet hiring.

Dua Realitas yang Berjalan Bersamaan

Jobstreet by SEEK 2026 mensurvei 1.000 pekerja Indonesia usia 18-64 tahun. Hasilnya menurut Jobstreet: 82 persen pekerja Indonesia merasa bahagia di tempat kerja, tertinggi se-Asia Pasifik. Tapi di balik kebahagiaan itu, 43 persen mengaku mengalami burnout dalam survei yang sama. Workplace Wellbeing Score Indonesia hanya 50,98 persen, di bawah rata-rata global 58,62 persen menurut data BSI yang dilansir OWRITE Juli 2026.

Bagaimana bisa bahagia dan burnout bersamaan? Mungkin karena "bahagia" diukur dari hubungan dengan rekan kerja, lokasi kerja, dan tujuan bekerja. Tapi beban kerja tidak masuk faktor utama kebahagiaan. Beban kerja masuk ke faktor burnout. Dua metrik yang berbeda, dua realitas yang sama.

Data Korn Ferry menunjukkan 45 persen perusahaan di Indonesia belum memiliki kebijakan kesehatan mental yang terstruktur. Halodoc mencatat lonjakan konsultasi mental health pekerja sepanjang 2026 yang tidak lagi musiman, melainkan konstan. Ketakutan akan penilaian buruk di lingkungan kerja membuat banyak pekerja memilih tutup mulut.

Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 4 Tahun 2026 sudah memasukkan risiko psikososial ke kerangka K3 nasional. Tapi kebijakan di atas kertas dan implementasi di lapangan adalah dua hal yang berbeda. Selama quiet hiring tidak diakui sebagai risiko psikososial, datanya akan tetap tidak tercatat.

Kenali Tandanya dan Ambil Posisi

Tanda Quiet Hiring Terjadi pada Kamu

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan. Rekan kerja keluar dan posisinya tidak diisi, tapi kerjaannya pindah ke kamu. Kamu diberi "stretch opportunity" atau "developmental experience" tanpa timeline yang jelas. Ada permintaan "temporary support" yang sudah berlangsung berbulan-bulan. Job description kamu tidak cocok dengan apa yang kamu kerjakan sekarang. Dan yang paling penting: tidak ada percakapan tentang kompensasi.

The Muse mengidentifikasi beberapa red flag spesifik. Bahasa vague seperti "stretch assignment" tanpa timeline, goal, atau mention kompensasi. Posisi vacant yang kamu cover "sementara" tanpa tanggal akhir. Bulan berlalu tanpa raise, bonus, atau title adjustment. Kalau ini terjadi pada kamu, bukan stretch assignment. Itu eksploitasi.

Langkah yang Bisa Kamu Ambil

Pertama, dokumentasikan semua tambahan tanggung jawab. Catat apa yang kamu kerjakan, berapa lama, dan bagaimana ini berbeda dari job description asli. Kedua, negosiasi dengan data. Bawa job description versus reality ke meja negosiasi gaji. Minta timeline review kompensasi, maksimal 6 bulan. Kalau perusahaan tidak bisa naikkan gaji sekarang, negosiasi bentuk lain: bonus berbasis proyek, PTO tambahan, atau fleksibilitas kerja.

Ketiga, kalau tidak ada respons dalam 6 bulan, itu jawaban. Bukan penundaan, kamu sudah tahu posisimu. Pilihan selanjutnya terserah kamu. Tapi setidaknya kamu tahu bahwa ini bukan kesalahanmu.

Bukan Strategi Cerdas, Cost-Cutting di Atas Punggungmu

Gartner dalam definisi aslinya menulis "with commensurate compensation." Tiga kata itu yang membedakan quiet hiring yang etis dari yang eksploitatif. Tapi di 2026, tiga kata itu sering hilang. Yang tersisa hanya "acquiring new skills without hiring new full-time employees." Bagian pertama tetap. Bagian kompensasi terhapus.

LinkedIn 2024 melaporkan internal mobility tumbuh 30 persen dalam beberapa tahun terakhir. Tapi hanya 33 persen organisasi yang punya program internal mobility formal menurut LinkedIn. Artinya, dua pertiga perusahaan yang melakukan quiet hiring tidak punya struktur, tidak punya transparansi, tidak punya kebijakan. Yang ada hanya kerjaan tambahan tanpa percakapan.

Saya perhatikan pola ini di lingkungan kerja saya sendiri. Rekan kerja resign, posisi tidak diisi, kerjaannya dibagi ke tim yang tersisa. Tidak ada pengumuman. Tidak ada kompensasi. Hanya pesan di grup: "Mohon bantuan cover sementara ya." Sementara yang dimaksud bisa berarti 3 bulan, 6 bulan, atau selamanya. Dan yang paling sering terjadi adalah selamanya.

Quiet hiring tanpa kompensasi bukan strategi talent, itu cost-cutting. Dan biayanya dibayar oleh karyawan dalam bentuk waktu, kesehatan mental, dan work-life balance yang tergerus. Perusahaan hemat biaya rekrutmen. Karyawan bayar dengan burnout. Transaksi yang tidak pernah diumumkan, tapi selalu dilakukan.

Bukan Salahmu, Bukan Juga Ambisimu

Bukan kamu yang tidak bisa kerja. Perusahaan yang hemat di atas punggungmu. Data Sharan Initiatives 2026 bicara jelas: hanya 39 persen karyawan yang alami quiet hiring merasa dibayar secara adil, turun dari 61 persen dua tahun lalu. Artinya, 61 persen karyawan berdasarkan data Sharan Initiatives tahu mereka tidak dibayar sesuai kerjaan yang mereka tanggung.

Pertanyaannya bukan apakah kamu bisa handle kerjaan 2 orang. Pertanyaannya: kenapa kamu harus? Kalau kerjaan 2 orang tapi gaji 1 orang, siapa yang diam-diam di-PHK? Bukan rekan kerjamu yang keluar. Kamu, yang diam-diam menanggung beban mereka tanpa dibayar.

FAQ

Apa itu quiet hiring?

Quiet hiring adalah praktik perusahaan mengisi kebutuhan tenaga kerja atau skill baru tanpa merekrut karyawan full-time baru. Caranya dengan memberikan tanggung jawab tambahan ke karyawan existing, rotasi internal, atau kontrak sementara. Definisi resmi dari Gartner menyebutkan ini harus dilakukan dengan kompensasi yang sesuai, tapi praktiknya sering tanpa kenaikan gaji.

Apa beda quiet hiring dengan promosi?

Promosi datang dengan title baru, gaji baru, dan scope yang jelas. Quiet hiring datang dengan kerjaan tambahan tanpa title, tanpa gaji, dan sering tanpa pengumuman formal. Promosi transparan dan diakui, quiet hiring diam-diam dan tidak.

Bagaimana cara menghadapi quiet hiring?

Dokumentasikan semua tambahan tanggung jawab yang kamu kerjakan. Negosiasi dengan data: bawa job description versus reality ke manajer atau HR. Minta timeline review kompensasi maksimal 6 bulan. Kalau tidak ada respons dalam 6 bulan, itu jawaban. Bukan penundaan, tapi keputusan perusahaan bahwa kamu tidak akan dibayar sesuai beban kerja.

Bagikan:

Newsletter

Satu email per minggu untuk melihat uang, karier, bisnis, dan kehidupan dari sudut yang lebih jernih. Gratis, berhenti kapan saja.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Komentar (0)

Login untuk berkomentar