
Sandwich Generation Gen Z: Bukan Tidak Ambisius, Gaji yang Langsung Dikirim ke Kampung
“90% pekerja Indonesia tanggung dua generasi. 46,3% Gen Z jadi sandwich generation. Sistem pensiun gagal membuat gaji dikirim ke kampung.”
Gen Z disebut tidak ambisius, cuma data survei: 6% yang mau jadi bos. 96% terbuka pindah kerja, data survei yang sama. Tapi survei Sun Life yang dirilis Februari 2026 menemukan 90% pekerja Indonesia menanggung beban finansial dua generasi sekaligus. Gaji pertama mereka belum sampai rekening, sudah ada yang menunggu di kampung.
Istilah sandwich generation pertama kali dipakai oleh Dorothy A. Miller pada 1981. Awalnya merujuk pada orang dewasa usia 45-65 tahun yang merawat orang tua sekaligus membesarkan anak. Tapi di Indonesia, fenomena ini turun usia. Gen Z yang baru lulus kuliah, baru dapat gaji pertama, sudah menanggung orang tua dan adik di rumah.
Siapa yang Tanggung Dua Generasi
Definisi sandwich generation yang bergeser
Sandwich generation dulu identik dengan usia paruh baya. Orang yang sudah mapan, punya rumah, punya anak, dan orang tuanya mulai menua. Di Indonesia, definisi ini bergeser. Gen Z yang baru masuk dunia kerja, belum punya rumah, belum menikah, sudah menanggung keluarga. Bukan karena mereka mau, tapi karena orang tua mereka tidak punya tabungan pensiun.
Data: hampir separuh Gen Z sudah jadi sandwich generation
DataIndonesia.id 2023 mencatat 46,3% Gen Z Indonesia sudah masuk kategori sandwich generation. Populix 2024 memperkuat angka ini: 65% responden usia 25-40 tahun masih menanggung sebagian kebutuhan orang tua, dan 48% di antaranya juga punya tanggungan anak atau adik. Diverse Asia-Manulife 2024 menemukan 94% responden Indonesia mengesampingkan kebutuhan pribadi demi orang tua yang sudah pensiun. Jakpat November 2025 menemukan 42% Gen Z masih mengandalkan orang tua sebagai sumber penghasilan utama. Hampir separuh Gen Z sudah menanggung keluarga, separuh lainnya masih ditanggung keluarga. Ekonomi yang sama, tekanan yang sama, tapi posisi yang berbeda.
Cerita Dian: Rp 2,5 juta gaji, Rp 1 juta langsung dikirim
Dilansir Kompas, Februari 2026, Dian (30) bekerja di Surakarta dengan gaji Rp 2,5 juta per bulan, dan setiap tanggal gajian langsung transfer Rp 1 juta ke keluarga, sisanya untuk biaya hidup di perantauan. Ayahnya stroke, ibunya berhenti kerja untuk merawat, adiknya kehilangan uang saku. Dian jadi tulang punggung tunggal. "Bukan keputusan sepihak, kita udah ada diskusi," katanya. Tapi pilihannya cuma satu: dia yang bekerja, atau keluarga yang jatuh.
Sistem Pensiun yang Gagal, Bukan Anak yang Tidak Balas Budi
Hanya 14,9 juta dari 145,8 juta pekerja punya jaminan pensiun
BPJS Ketenagakerjaan 2025 mencatat hanya 14,9 juta pekerja terdaftar di Program Jaminan Pensiun. Padahal angkatan kerja Indonesia mencapai 145,8 juta orang pada Februari 2025 menurut BPS. Artinya, data BPJS menunjukkan sekitar 90% pekerja Indonesia tidak punya jaminan pensiun. Mereka akan masuk usia tua tanpa tabungan yang cukup, dan satu-satunya jaring pengaman adalah anak-anaknya.
Manfaat pensiun Rp 400 ribu per bulan, di bawah garis kemiskinan
BPJS Ketenagakerjaan sendiri mengakui manfaat pensiun berkala saat ini hanya sekitar Rp 400 ribu per bulan. Angka itu masih di bawah garis kemiskinan nasional. Roswita Nilakurnia, Direktur Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan, menyebut ini jadi PR tersendiri untuk penyesuaian regulasi batas minimum manfaat. Pensiun yang seharusnya jadi masa tenang, justru jadi masa susah.
82,96% lansia ditopang keluarga yang bekerja
BPS 2025 mencatat 82,96% rumah tangga lansia masih memenuhi kebutuhan hidupnya dari penghasilan anggota keluarga yang bekerja. Bukan dari tabungan sendiri, bukan dari pensiun. Kemenkeu 2025 menyebut lebih dari 80% lansia bergantung pada anak yang bekerja. Ini pola sistemik, bukan soal satu dua keluarga.
59,4% pekerja informal tanpa akses pensiun
BPS mencatat pada Februari 2025, 59,40% pekerja Indonesia berada di sektor informal, setara 86,6 juta orang. Tapi menurut Jurnal Jamsostek Desember 2025, hanya 14% pekerja informal yang terlindungi BPJS Ketenagakerjaan. Pekerja informal tidak punya akses ke Program Jaminan Pensiun, hanya bisa ikut Jaminan Hari Tua yang bersifat iuran pasti. Ketika sistem pensiun tidak inklusif, tanggung jawab otomatis pindah ke pundak anak. Sama seperti dana pensiun Gen Z yang nabung 40 tahun untuk uang yang belum pasti ada.
Sandwich Generation Membunuh Risiko Karier Gen Z
Gaji langsung dikirim, tidak ada ruang untuk ambisi
Survei Sun Life 2026 menemukan 90% pekerja Indonesia menanggung dua generasi. Survei YouGov 2025 menambahkan: 46% generasi sandwich di Indonesia mengaku pendapatan mereka tidak naik, sementara biaya hidup terus meroket. Data YouGov mencatat dua faktor utama yang mengancam stabilitas keuangan mereka: inflasi (47%) dan penurunan penghasilan (31%). Ketika gaji langsung dibagi untuk orang tua, adik, dan kebutuhan rumah, tidak ada sisa untuk ambisi. Tidak ada sisa untuk menabung yang matematikanya sudah tidak masuk akal.
62% terpaksa pinjam untuk tutup kebutuhan
YouGov 2025 juga mencatat 62% generasi sandwich di Indonesia terpaksa mengambil pinjaman untuk menutup kebutuhan: 22% lewat paylater, 16% lewat kartu kredit, 11% lewat fintech. Mereka tidak boros. Mereka menanggung beban yang seharusnya tidak mereka tanggung di usia ini. Ketika satu gaji tidak cukup untuk dua generasi, kerja dua full-time bukan ambisi tapi darurat.
Pilihan karier dibentuk oleh tanggung jawab, bukan passion
Gen Z disebut pindah-pindah kerja karena tidak loyal. Tapi gaji yang tidak mau tumbuh membuat mereka harus cari yang bayar lebih. Mereka tidak bisa ambil risiko startup, freelance, atau pindah ke kota lain untuk kesempatan better. Orang tua menunggu kiriman tiap bulan, adik butuh uang sekolah. Pilihan karier dibentuk oleh tanggung jawab keluarga, bukan passion atau ambisi personal. Inilah yang tidak dilihat generasi sebelumnya: kelas menengah menyusut, biaya hidup naik, tapi ekspektasi "balas budi" tetap sama.
Budaya "Balas Budi" Jadi Gaslighting Sistemik
Ekspektasi "anak = investasi masa tua"
Di Indonesia, gaji pertama punya orang tua. Itu aturan tak tertulis. Anak diajarkan bahwa mereka "investasi" masa tua. Ketika orang tua pensiun tanpa dana pensiun yang memadai, anak jadi dana pensiun mereka. Budaya ini tidak salah dalam konteks keluarga yang stabil. Tapi ketika data BPJS menunjukkan sistem pensiun gagal mencakup 90% pekerja, "balas budi" berubah dari nilai moral menjadi beban struktural.
Rasa bersalah yang ditransmisikan generasi ke generasi
Katadata-Astra Life 2021 mewawancarai 1.828 responden usia 25-45 tahun. Hasilnya: data survei mencatat 82,6% generasi sandwich percaya mereka mampu merawat tanggungan dengan baik. Tapi data survei menunjukkan hanya 13,4% yang benar-benar siap secara finansial. Survei yang sama mencatat 52,2% belum menyiapkan dana darurat dan 33% bahkan tidak punya tabungan sama sekali. Rasa percaya diri tinggi dengan kesiapan rendah adalah kombinasi berbahaya. Gen Z yang tidak bisa "balas budi" merasa bersalah, padahal seharusnya negara yang menanggung.
Negara yang seharusnya menanggung, keluarga yang menanggung
Ihda Muktiyanto, Direktur Pengembangan Dana Pensiun dan Asuransi Kemenkeu, menyebut perlunya sistem pensiun yang inklusif dan berkelanjutan agar lansia tidak lagi bergantung total pada anak. Tapi sampai sistem itu ada, beban tetap jatuh ke generasi muda. Data UN ESCAP 2023 mencatat penduduk Indonesia berusia 60+ sudah mencapai 30,9 juta, dan diproyeksikan melonjak ke 64,9 juta pada 2050. Beban sandwich generation bukan memuncak sekarang, baru akan mencapai puncaknya dua hingga tiga dekade mendatang.
Insight
Saya punya teman, sebut saja Rizki. Berdasarkan cerita dia: lulus S1 di Yogyakarta, dapat kerja di Jakarta dengan gaji Rp 4,5 juta, tiap bulan kirim Rp 1,5 juta ke rumah di Banyumas. Ayahnya pensiunan honorer tanpa jaminan pensiun, ibunya jualan gorengan, adiknya masih SMA. Berdasarkan cerita yang sama, Rizki pernah ditawarin pindah ke startup dengan gaji Rp 6 juta tapi kontrak 6 bulan. Dia tolak. "Kalau gagal, yang kena bukan cuma saya," katanya. Rizki bukan tidak ambisius. Dia cuma tidak punya luxuri untuk ambil risiko.
Ini yang tidak dipahami generasi sebelumnya. Data BPS mencatat mereka masuk dunia kerja di era ekonomi masih tumbuh 6-7% per tahun, rumah masih terjangkau, sistem pensiun masih jangkau pekerja formal. Gen Z masuk dunia kerja di era adulting yang dipaksa sebelum siap, gaji stagnan, biaya hidup meroket, dan data BPJS mencatat sistem pensiun cuma jangkau 10% pekerja. Sandwich generation Gen Z bukan fenomena individual. Ini akibat struktural dari sistem yang gagal menyiapkan hari tua generasi sebelumnya.
Conclusion
Jadi bukan Gen Z yang tidak ambisius. Data BPJS menunjukkan sistem pensiun cuma jangkau 10% pekerja, manfaat Rp 400 ribu sebulan, itu yang membuat gaji pertama langsung dikirim ke kampung. Mereka bukan tidak mau ambil risiko karier, mereka tidak punya pilihan. Survei Sun Life 2026 menemukan 90% pekerja Indonesia tanggung dua generasi, dan beban ini baru akan memuncak di 2030-2045. Selama sistem pensiun tidak inklusif, setiap generasi muda akan jadi sandwich generation. Dan setiap sandwich generation akan punya cerita seperti Rizki: menolak kesempatan, bukan karena takut, tapi karena tanggung jawab yang seharusnya bukan miliknya.
FAQ
Apa itu sandwich generation?
Sandwich generation adalah kelompok usia produktif yang menanggung beban finansial dua generasi sekaligus: orang tua yang sudah tidak produktif dan anak atau saudara yang belum mandiri. Istilah ini pertama kali dipakai oleh Dorothy A. Miller pada 1981. Di Indonesia, fenomena ini turun usia: DataIndonesia.id 2023 mencatat 46,3% Gen Z sudah masuk kategori sandwich generation.
Kenapa Gen Z bisa jadi sandwich generation di usia muda?
Gen Z jadi sandwich generation karena sistem pensiun Indonesia tidak inklusif. Data BPJS Ketenagakerjaan 2025 mencatat hanya 14,9 juta dari 145,8 juta pekerja punya jaminan pensiun. BPS 2025 mencatat 82,96% lansia ditopang keluarga yang bekerja. Ketika orang tua tidak punya tabungan pensiun, tanggung jawab otomatis pindah ke anak, bahkan sebelum anak mandiri secara finansial.
Berapa banyak Gen Z Indonesia yang masuk sandwich generation?
DataIndonesia.id 2023 mencatat 46,3% Gen Z Indonesia sudah masuk kategori sandwich generation. Sun Life Februari 2026 menemukan 90% pekerja Indonesia menanggung beban finansial dua generasi sekaligus. Populix 2024 menemukan 65% responden usia 25-40 tahun masih menanggung sebagian kebutuhan orang tua.
Apa dampak sandwich generation ke pilihan karier Gen Z?
Diverse Asia-Manulife 2024 menemukan 94% generasi sandwich di Indonesia mengesampingkan kebutuhan pribadi demi orang tua. YouGov 2025 mencatat 62% terpaksa pinjam untuk menutup kebutuhan. Gen Z tidak bisa ambil risiko karier seperti startup atau freelance karena gaji langsung dikirim ke keluarga. Pilihan karier dibentuk oleh tanggung jawab, bukan ambisi.
Bagaimana cara mengatasi beban sandwich generation?
Tips keuangan individual tidak cukup. Akar masalahnya adalah sistem pensiun yang gagal. Data BPJS Ketenagakerjaan 2025 mencatat hanya 10% pekerja Indonesia punya jaminan pensiun, dan manfaatnya hanya Rp 400 ribu per bulan. Kemenkeu sudah mengakui perlunya sistem pensiun yang inklusif. Selama sistem tidak berubah, beban akan terus jatuh ke generasi muda, dan setiap generasi baru akan jadi sandwich generation.
Newsletter
Satu email per minggu untuk melihat uang, karier, bisnis, dan kehidupan dari sudut yang lebih jernih. Gratis, berhenti kapan saja.
TAM gratis untuk semua
Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.
Dukung TAMSumber & Metodologi
Data dalam artikel ini bersumber dari publikasi resmi dan laporan media terverifikasi. Pembaca dapat memeriksa sumber asli melalui tautan berikut.
- 1.
- 2.
- 3.
- 4.
- 5.
- 6.
- 7.
- 8.
- 9.
- 10.
- 11.
- 12.
Nilai Bagus, Gaji Nggak Naik: Performance Review Itu Sandiwara
Performance review dijual sebagai meritokrasi adil. Tapi 66% pekerja Indonesia merasa sistem ini tidak adil. Dan gaji Gen Z stagnan Rp 100 ribu per tahun.