
Ritual Tanpa Makna: 17 Agustus yang Gen Z Lakoni Tapi Tidak Rasakan
“Upacara bendera, lomba panjat pinang, kirab bendera. Gen Z ikut semua, tapi tidak merasakan apa-apa. Bukan karena tidak nasionalis.”
17 Agustus 2026, pukul 7 pagi. Saya berdiri di lapangan sekolah, mata menatap bendera merah putih naik pelan-pelan. Lagu Indonesia Raya berkumandang. Tangan di dada, bibir bergerak mengikuti lirik. Tapi pikiran saya kemana-mana. Cicilan paylater yang jatuh tempo besok. Gaji yang masuk tanggal 25 tapi habis tanggal 10. Tugas kantor yang numpuk. Saya menyanyikan lagu kebangsaan, tapi tidak merasakan apa-apa.
Dan saya tidak sendirian. Di barisan depan, teman saya sambil main HP di saku. Di belakang, yang lain ngobrol pelan-pelan. Kita semua berdiri, semua menyanyi, semua mengikuti protokol. Tapi tidak ada yang merasakan kemerdekaan di hati. Ritual selesai, kita kembali ke kelas, ke kantor, ke realitas.
Format yang Tidak Pernah Berubah
Indonesia genap 81 tahun merdeka. Setiap 17 Agustus, ritual kemerdekaan berjalan sama: upacara bendera, lomba panjat pinang, balap karung, kirab bendera. Sekolah dan kantor mewajibkan kehadiran, tahun demi tahun, formatnya tidak berubah.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mengakui nasionalisme Gen Z Indonesia menurun, dilansir Antara News Agustus 2025. Respon pemerintah: menjadikan Pramuka sebagai ekstrakurikuler wajib di semua jenjang pendidikan via Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, menurut CNA.id. Logikanya, kalau anak muda kurang nasionalis, tambah ritual kebangsaan.
Pertanyaannya: apakah masalahnya kurang ritual, atau ritual yang kehilangan makna?
Paradoks Kebanggaan
Data Lembaga Survei Indonesia April 2026 menunjukkan 98 persen responden bangga menjadi orang Indonesia, dengan 60.2 persen merasa sangat bangga. Survei yang sama mencatat 74.9 persen bersedia ikut perang membela negara jika terjadi konflik. Angka kebanggaan ini hampir universal.
Tapi data IMGR 2027 dari IDN Research Institute menunjukkan hal yang berbeda soal ekspresi nasionalisme. Hanya 8.1 persen Gen Z dan Milenial yang menganggap ikut upacara atau peringatan nasional sebagai bentuk cinta tanah air, menurut IMGR. Angka ini menempati posisi terendah dari semua pilihan.
Ekspresi Nasionalisme Gen Z vs Upacara
98% bangga, tapi hanya 8.1% anggap upacara = nasionalisme
Sumber: LSI April 2026 & IMGR 2027 IDN Research Institute
98 persen bangga, tapi 8.1 persen anggap upacara = nasionalisme. Ini bukan kontradiksi. Ini pergeseran ekspresi. Mereka bangga jadi orang Indonesia, tapi tidak mengaitkan kebanggaan itu dengan ritual seremonial. Cinta tanah air Gen Z tidak harus ditunjukkan dengan berdiri di lapangan.
Survei Populix 2023 yang dikutip Langgam.id menunjukkan lebih dari 60 persen responden dari semua generasi menilai semangat nasionalisme kaum muda menurun. Narasi ini dibuat generasi tua dan dipegang sebagian anak muda sendiri. Padahal, Litbang Kompas 2025 menemukan Gen Z tetap menunjukkan tingkat kebanggaan tinggi terhadap Indonesia. Yang berubah bukan kebanggaannya, tapi cara menunjukkannya.
Ekspresi yang Berubah Bentuk
Anak muda tidak duduk diam. Nasionalisme Gen Z Indonesia tetap hidup, tapi ditunjukkan dengan cara yang jauh dari lapangan upacara.
IMGR 2027 menunjukkan 59.3 persen Gen Z dan Milenial menganggap menyuarakan kritik terhadap kebijakan tidak adil sebagai bentuk cinta tanah air. 61 persen memilih membeli dan menggunakan produk lokal sebagai wujud nasionalisme, menurut IMGR. 62.6 persen bersikap skeptis ketika sentimen nasionalisme dipakai untuk kepentingan politik, menurut riset yang sama.
Survei Rimba 2026 melibatkan 434 responden Gen Z di delapan kota besar menunjukkan 84.8 persen merasa pelestarian alam dan budaya merupakan bagian dari kepentingan nasional. 79.3 persen mengaku pernah terlibat langsung dalam kegiatan pelestarian alam, baik di lingkungan tempat tinggal maupun kampanye digital, menurut survei yang sama. Generasi ini memilih tindakan nyata daripada seremonial.
GoodStats melaporkan 29.3 persen generasi muda memilih mendukung kreator, musisi, atau film lokal sebagai bentuk nasionalisme. 22.8 persen merasa bangga saat budaya Indonesia diakui di luar negeri, menurut data GoodStats. Mereka tidak kehilangan nasionalisme, mendefinisikan ulang karena narasi lama terasa kosong di hadapan realitas yang mereka hadapi setiap hari.
Sebagaimana kami bahas di Merdeka dari Apa? Gen Z 2026 Tidak Merasakannya, kesenjangan antara merdeka yang dirayakan dan merdeka yang dirasakan bukan masalah nasionalisme. Itu masalah substansi yang hilang dari ritual.
Ritual yang Dipaksa vs Nasionalisme yang Dipilih
Pemerintah merespons gejala kurang nasionalis dengan menambah ritual. Pramuka wajib di semua sekolah, logikanya lebih banyak ritual kebangsaan berarti lebih banyak nasionalisme. Tapi data menunjukkan sebaliknya.
61 persen Gen Z membeli produk lokal sebagai bentuk nasionalisme menurut IMGR 2027. Tidak ada yang memaksa mereka, tidak ada Permendikdasmen yang mewajibkan beli produk lokal. Mereka memilih sendiri, dan itu nasionalisme yang dipilih, bukan yang dipaksakan.
Upacara bendera, sebaliknya, dilakukan karena wajib. Sekolah dan kantor mewajibkan kehadiran, kalau tidak ikut ada konsekuensinya. Gen Z tahu perbedaan antara melakukan karena ingin dan melakukan karena tidak ada pilihan, dan mereka tidak menghargai yang kedua.
Seperti yang kami tulis di Healing Culture: Self-Care atau Performance untuk Konten?, ada perbedaan besar antara melakukan sesuatu karena merasakannya dan melakukan untuk terlihat melakukannya. Upacara 17 Agustus, bagi banyak Gen Z, jatuh di kategori kedua.
Performative Patriotism
Ada istilah untuk fenomena ini: performative patriotism. Menunjukkan cinta tanah air bukan karena merasakannya, tapi karena terlihat melakukannya. Foto bendera di Instagram story, video lomba panjat pinang di TikTok, twit "Dirgahayu RI" di X. Semua untuk audiens, bukan untuk negara.
Generasi ini tidak menentang ritual, mereka menolak hipokrisi. Mereka bisa membedakan antara berdiri di upacara karena merasakan kemerdekaan, dan berdiri karena guru akan mencatat absensi. Mereka bisa membedakan antara menyanyikan Indonesia Raya dengan mata berkaca-kaca, dan menyanyikan sambil mikir cicilan.
Saya pernah nanya ke teman, "Kenapa kamu tetap ikut upacara kalau tidak merasakan apa-apa?" Jawabannya simpel: "Karena tidak ikut nilainya turun." Itu bukan nasionalisme, itu kepatuhan. Generasi ini tahu persis perbedaannya.
Seperti yang kami bahas di Gen Z Doomerism: Pesimis Bukan Depresi, Mereka Baca Datanya, Gen Z tidak bereaksi emosional tanpa dasar. Mereka baca datanya, lihat realitasnya, lalu membentuk opini. Nasionalisme mereka sama: berbasis realitas, bukan berbasis ritual.
Insight
Data LSI April 2026 mencatat 98 persen Gen Z bangga jadi orang Indonesia. Data IMGR 2027 menunjukkan hanya 8.1 persen anggap upacara = nasionalisme. Paradoks gen Z nasionalisme ini soal ritual yang tidak terkoneksi dengan realitas, bukan soal generasi.
Generasi muda hidup di masa ketika ancaman bukan tentara asing, tapi PHK, paylater, dan biaya hidup yang naik lebih cepat dari gaji. Upacara bendera tidak menjawab ancaman itu, lomba panjat pinang tidak membayar cicilan, kirab bendera tidak menambah tabungan. Ritual yang tidak terkoneksi dengan realitas akan terasa kosong, tidak peduli berapa kali diulang.
Seperti yang kami bahas di Quarter-Life Crisis Bukan Penyakit, Sistemnya yang Rusak, kalau satu generasi penuh mengalami krisis yang sama di usia yang sama, bukan generasinya yang rusak. Sistemnya yang rusak. Nasionalisme yang sama: kalau satu generasi penuh tidak merasakan ritual kebangsaan, bukan generasinya yang kurang nasionalis. Ritualnya yang kurang nyata.
81 Tahun, Masih Menunggu
81 tahun merdeka, upacara masih dirayakan, tapi generasi yang merayakan tidak merasakannya. Bukan Gen Z yang kurang nasionalis, nasionalisme yang kurang nyata.
Berdasarkan data LSI dan IMGR, 98 persen bangga, 74.9 persen bersedia perang, 61 persen beli produk lokal, 59.3 persen kritis kebijakan. Tapi mereka tidak berdiri di lapangan upacara dan merasakan kemerdekaan di hati, karena lapangan itu tidak terkoneksi dengan realitas mereka.
Tambah Pramuka wajib tidak akan mengubah itu. Menambah ritual tidak akan menambah makna. Gen Z akan merasakan nasionalisme saat upacara punya substansi yang layak dirayakan, bukan saat ditambah ritual baru.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah Gen Z Indonesia tidak nasionalis?
Berdasarkan survei LSI April 2026, 98 persen responden bangga menjadi orang Indonesia dan 74.9 persen bersedia perang membela negara. Nasionalisme Gen Z bukan hilang, hanya berubah bentuk. Mereka mengubah cara menunjukkannya, dari ritual seremonial ke tindakan nyata seperti kritik kebijakan dan beli produk lokal.
Kenapa Gen Z tidak antusias ikut upacara 17 Agustus?
IMGR 2027 menunjukkan hanya 8.1 persen Gen Z yang menganggap upacara sebagai bentuk nasionalisme. Mereka bisa membedakan antara melakukan ritual karena merasakannya dan melakukan karena kewajiban. Upacara yang dilakukan tanpa koneksi ke realitas ekonomi terasa kosong bagi mereka.
Apa bentuk nasionalisme Gen Z?
IMGR 2027 mencatat 59.3 persen memilih kritik kebijakan tidak adil, 61 persen membeli produk lokal, dan 29.3 persen mendukung kreator lokal. Survei Rimba 2026 menemukan 84.8 persen menganggap pelestarian alam sebagai kepentingan nasional. Mereka menunjukkan nasionalisme lewat tindakan nyata, bukan seremonial.
Apakah Pramuka wajib bisa tingkatkan nasionalisme?
Pemerintah menetapkan Pramuka sebagai ekskul wajib via Permendikdasmen 13/2025. Tapi data menunjukkan Gen Z lebih merespons nasionalisme yang dipilih (61 persen beli produk lokal tanpa diwajibkan) daripada yang dipaksakan. Menambah ritual tanpa substansi tidak otomatis menambah nasionalisme.
Newsletter
Satu email per minggu untuk melihat uang, karier, bisnis, dan kehidupan dari sudut yang lebih jernih. Gratis, berhenti kapan saja.
TAM gratis untuk semua
Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.
Dukung TAMSumber & Metodologi
Data dalam artikel ini bersumber dari publikasi resmi dan laporan media terverifikasi. Pembaca dapat memeriksa sumber asli melalui tautan berikut.
- 1.
- 2.
- 3.
- 4.
- 5.
- 6.
- 7.
- 8.
- 9.
- 10.
- 11.
- 12.
Gen Z Kabur dari Indonesia, Bukan Cari Enak
150.875 WNI pindah tiap tahun. 41% Gen Z pertimbangkan kabur. Gaji Rp3,3 juta vs Korea Rp23 juta. Bukan cari enak, sistem yang nggak beri alasan tinggal.